Kembali ke semua artikel
Perempuan Ini Wakafkan Miliaran Rupiah, Alasannya Bikin Takjub
Muslimah Inspiratif 22 June 2026 4 menit baca

Perempuan Ini Wakafkan Miliaran Rupiah, Alasannya Bikin Takjub

Ditulis oleh Ovi Shofianur

Di era ketika banyak orang berlomba membeli tas mewah, mobil premium, dan barang-barang bermerek untuk menunjukkan status sosial, kisah Siti Aisyah menghadirkan pertanyaan yang menarik sekaligus menantang.

Apa yang terjadi ketika seseorang mampu membeli hampir apa saja yang diinginkannya?

Bagi sebagian orang, jawabannya mungkin adalah menambah koleksi barang mewah. Namun bagi Siti Aisyah, pengusaha asal Surabaya yang dikenal sebagai pemilik Pecel Pincuk dan pendiri Vanilla Hijab, jawabannya justru berbeda.

Ia memilih menghibahkan aset bernilai miliaran rupiah untuk kemaslahatan masyarakat.

Keputusan tersebut membuat namanya menjadi perbincangan publik. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah ketika hotel milik keluarganya diwakafkan dan kemudian dimanfaatkan sebagai sekolah.

Saat menceritakan kisah itu, Aisyah justru merendah. Ia mengatakan bahwa apa yang dilakukannya belum seberapa dibandingkan kedua orang tuanya yang lebih dahulu memberi teladan dalam bersedekah dan berwakaf.

Namun ada satu pengakuan yang membuat banyak orang terkejut.

Dengan nada bercanda, Aisyah pernah berkata, “Saya bosan, Ustaz, punya uang banyak.”

Kalimat itu sempat viral karena terdengar tidak biasa di tengah banyaknya orang yang sedang berjuang mencari tambahan penghasilan.

Di balik candaan tersebut, tersimpan cara pandang yang menarik tentang harta.

Aisyah mengaku tidak lagi memandang uang sebagai tujuan utama. Baginya, kebahagiaan terbesar bukan berasal dari menumpuk kekayaan, melainkan dari melihat manfaat yang lahir dari harta tersebut.

Ia berulang kali menegaskan bahwa semakin banyak berbagi, semakin besar pula kebahagiaan yang dirasakan.

Yang lebih menarik lagi adalah sikapnya terhadap barang-barang mewah.

Ketika banyak orang menganggap tas desainer sebagai simbol kesuksesan, Aisyah mengaku tidak memilikinya. Ia bahkan pernah mengatakan bahwa jika diberi pilihan antara menghabiskan Rp1 miliar untuk membeli tas Hermès atau membangun masjid, ia akan memilih membangun masjid.

“Saya tidak punya tas desainer, sama sekali tidak. Saya hanya ingin tas bermerek dari Allah,” ujarnya.

Pernyataan itu mungkin terdengar sederhana, tetapi justru di situlah letak keunikannya.

Banyak orang tidak membeli barang mewah karena memang belum mampu. Siti Aisyah berada dalam situasi yang berbeda. Ia mampu membelinya, tetapi memilih untuk tidak menjadikannya prioritas.

Dalam psikologi modern, fenomena seperti ini sering disebut sebagai pergeseran dari kepuasan konsumtif menuju kepuasan yang bermakna.

Ketika kebutuhan dasar dan kenyamanan hidup telah terpenuhi, sebagian orang mulai mencari makna yang lebih dalam daripada sekadar memiliki barang.

Siti Aisyah tampaknya menemukan makna tersebut melalui sedekah dan wakaf.

Ia bahkan mengaku tidak pernah merasa hartanya berkurang meskipun telah mengeluarkan dana dalam jumlah besar untuk berbagai kegiatan sosial.

Menurutnya, kebahagiaan yang muncul setelah berbagi jauh lebih besar dibandingkan nilai uang yang dikeluarkan.

Pandangan ini sejatinya sejalan dengan ajaran Islam. Harta tidak dipandang sebagai tujuan hidup, melainkan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memberikan manfaat bagi sesama.

Karena itu, ukuran kesuksesan dalam Islam tidak selalu identik dengan banyaknya aset yang dimiliki. Kesuksesan juga diukur dari sejauh mana manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.

Kisah Siti Aisyah menjadi pengingat bahwa kekayaan dan kesederhanaan tidak selalu bertentangan.

Seseorang dapat memiliki harta melimpah sekaligus hidup tanpa obsesi terhadap kemewahan. Seseorang juga dapat berada di puncak kesuksesan bisnis tanpa merasa perlu membuktikan statusnya melalui barang yang dikenakan.

Di tengah budaya flexing yang semakin marak di media sosial, pilihan hidup seperti ini terasa semakin langka.

Ketika banyak orang berusaha terlihat kaya, Siti Aisyah menunjukkan bahwa tingkat kekayaan tertinggi mungkin bukan ketika seseorang mampu membeli apa saja yang diinginkannya.

Melainkan ketika ia mampu melepaskan sebagian yang dimilikinya demi menghadirkan manfaat yang lebih besar bagi orang lain.

Foto: Tangkapan layar kanal YouTube Love Qur’an

#SitiAisyah #Wakaf #Sedekah #MuslimahInspiratif #VanillaHijab #GayaHidupSederhana #InspirasiMuslim #KisahInspiratif #EkonomiSyariah #PengusahaMuslimahSukses

Sukai dan bagikan artikel ini

Komentar

0 tanggapan dari pembaca

Belum ada komentar untuk artikel ini.

Artikel menarik lainnya

Lanjutkan dengan membaca artikel menarik lainnya

Lihat semua