Benarkah Ibu Bekerja Menelantarkan Anak? Ini Penjelasan Faktual dan Pandangan Islam
Perdebatan soal ibu bekerja kembali ramai di media sosial. Istilah “mom war” muncul ketika sebagian orang menuding ibu bekerja telah menelantarkan anak. Narasi ini cepat menyebar karena menyentuh isu sensitif tentang peran perempuan dan pengasuhan. Namun, klaim tersebut sering tidak berdasar dan mengabaikan realitas sosial yang kompleks.
Ibu bekerja bukan fenomena baru. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan partisipasi perempuan dalam angkatan kerja terus meningkat dalam satu dekade terakhir. Banyak keluarga bergantung pada dua sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan dasar, pendidikan, dan kesehatan. Artinya, keputusan bekerja sering lahir dari kebutuhan, bukan sekadar pilihan gaya hidup.
Masalahnya, diskursus publik sering disederhanakan. Ibu yang bekerja dianggap kurang hadir, sementara ibu rumah tangga dianggap lebih ideal. Ini asumsi yang lemah. Kualitas pengasuhan tidak hanya ditentukan oleh waktu fisik, tetapi juga keterlibatan emosional, komunikasi, dan stabilitas keluarga.
Ada beberapa alasan rasional mengapa perempuan memilih bekerja.
Pertama, faktor ekonomi. Biaya hidup naik, sementara satu penghasilan sering tidak cukup.
Kedua, pendidikan. Banyak perempuan memiliki kompetensi profesional yang sayang jika tidak dimanfaatkan.
Ketiga, kondisi darurat seperti menjadi orang tua tunggal. Dalam situasi ini, bekerja bukan pilihan, tetapi keharusan.
Selain itu, bekerja juga bisa memberi dampak positif pada anak. Anak melihat contoh kemandirian, tanggung jawab, dan etos kerja.
Beberapa riset menunjukkan anak dari ibu bekerja tetap bisa tumbuh optimal selama kebutuhan emosionalnya terpenuhi. Jadi, masalah utamanya bukan bekerja atau tidak, tetapi bagaimana pengasuhan tetap berjalan.
Pandangan Islam terhadap perempuan bekerja tidak hitam putih. Islam tidak melarang perempuan bekerja selama memenuhi batasan syariat.
Dalam sejarah, Khadijah binti Khuwailid adalah pengusaha sukses. Ia tetap menjalankan peran keluarga sekaligus aktivitas ekonomi.
Dalam fikih, kewajiban utama nafkah memang berada pada suami. Namun bukan berarti perempuan tidak boleh bekerja. Ulama klasik memberi ruang selama pekerjaan itu halal, menjaga kehormatan, dan tidak melalaikan tanggung jawab utama dalam keluarga.
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa perempuan boleh keluar rumah untuk kebutuhan yang dibenarkan syariat, termasuk bekerja, selama aman dan terjaga. Ini menunjukkan bahwa aktivitas publik perempuan diakui dalam kerangka Islam.
Pendapat serupa datang dari Yusuf al-Qaradawi. Ia menegaskan bahwa perempuan boleh bekerja jika ada kebutuhan atau manfaat, baik untuk dirinya maupun masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga.
Namun, perlu dicatat. Islam tetap menekankan tanggung jawab pengasuhan anak sebagai amanah besar. Ini bukan hanya tugas ibu, tetapi juga ayah. Narasi yang menyalahkan ibu saja menunjukkan bias yang tidak adil. Dalam Islam, ayah memiliki tanggung jawab pendidikan dan pengasuhan yang sama pentingnya.
“Mom war” sering gagal melihat pembagian peran dalam keluarga modern. Banyak pasangan kini berbagi tugas secara lebih fleksibel. Ayah ikut mengasuh, ibu bekerja, dan keduanya berkolaborasi. Model ini justru lebih realistis dibanding standar lama yang kaku.
Kritik yang perlu diajukan adalah bukan pada ibu bekerja, tetapi pada sistem dukungan keluarga.
Apakah ada waktu berkualitas untuk anak. Apakah komunikasi berjalan. Apakah kebutuhan emosional terpenuhi. Ini indikator yang lebih relevan dibanding sekadar status bekerja.
Menuduh ibu bekerja sebagai “menelantarkan anak” adalah simplifikasi berbahaya. Tuduhan ini bisa menimbulkan rasa bersalah yang tidak produktif dan mengabaikan kontribusi nyata perempuan dalam keluarga dan masyarakat.
Fokus seharusnya bergeser. Bukan pada apakah ibu bekerja atau tidak, tetapi bagaimana keluarga membangun sistem pengasuhan yang sehat. Dalam banyak kasus, kombinasi kerja dan pengasuhan justru menciptakan keluarga yang lebih tangguh secara ekonomi dan mental.
Kesimpulannya jelas. Ibu bekerja tidak otomatis menelantarkan anak. Islam memberi ruang dengan syarat yang jelas. Yang perlu dijaga adalah keseimbangan, tanggung jawab bersama, dan kualitas pengasuhan. Perdebatan tidak akan selesai jika masih berangkat dari asumsi sempit.
Foto: Ilustrasi perempuan yang gelisah. (Everypixel)
#MomWar #IbuBekerja #ParentingIslami #PerempuanKarier #PengasuhanAnak #IslamDanPerempuan #KeluargaSehat #PeranOrangTua #IsuSosial #GoogleDiscover