Pernah nggak sih kamu mikir, gimana rasanya ngetik pembelaan di media sosial cuma demi cuan, tapi sadar kalau yang dibela itu jelas-jelas salah? Di era digital sekarang, jari kita ibarat pedang dua sisi. Sayangnya, nggak sedikit yang memilih jadi buzzer bayaran buat nutupin borok para pesohor atau pejabat. Padahal, dalam pandangan Islam, aksi "cari aman dan cuan" dengan cara mendukung kemunkaran ini punya risiko spiritual yang nggak main-main, lho.

Ketika jari di atas papan ketik berubah menjadi komoditas dan narasi publik dibeli dengan rupiah, peran buzzer kerap melampaui batas etika. Dalam Islam, aktivitas propaganda media sosial tidak berdiri bebas nilai. Ketika kamu memilih menjadi buzzer yang membela kemunkaran, memutihkan citra figur publik yang berbuat asusila, menutup-nutupi pejabat korup, serta membenarkan kebijakan yang acuh terhadap rakyat, tindakan itu bukan lagi sekadar urusan "mencari nafkah", melainkan kejahatan syariat yang amat serius.

Yuk, kita bedah tuntas gimana hukum Islam melihat fenomena buzzer yang hobi jadi pelindung kebatilan!

Hukum Jadi Buzzer Pembela Kemunkaran
Dalam aturan main Islam, segala hal dinilai dari esensi dan dampaknya. Membantu melanggengkan dosa itu hukumnya haram mutlak. Allah Swt. udah wanti-wanti kita lewat firman-Nya supaya nggak pernah kerja sama dalam hal keburukan:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَلْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya." (QS. Al-Ma'idah: 2)

Nah, kalau kamu jadi buzzer yang sibuk membersihkan nama pejabat korup, menutupi skandal figur publik, atau bikin narasi seolah rakyat miskin itu nggak ada apa-apanya, kamu otomatis masuk ke zona ta'awun 'alal itsmi (tolong-menolong dalam dosa). Hasil uangnya? Jelas masuk kategori harta yang kurang berkah buat hidup kita.

Dalil Al-Qur'an: Jangan Tukar Kebenaran dengan Harga Murah
Buat kamu yang merasa "ah, ini kan cuma konten dan kerjaan", Al-Qur'an punya teguran telak buat orang-orang yang rela menggadaikan prinsip demi materi dunia. Allah Swt. berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَٰئِكِ لَا خَلَاقَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ وَلَا يَنظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
"Sesungguhnya orang-orang yang memperjualbelikan janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga murah, mereka itu tidak memperoleh bagian di akhirat... dan bagi mereka azab yang sangat pedih." (QS. Ali 'Imran: 77)

Ayat ini pengingat keras buat kita semua. Memutarbalikkan fakta, membela pejabat yang tumpul ke atas tajam ke bawah, atau memaklumi kelakuan asusila artis idola cuma demi bayaran, sama artinya dengan menjual prinsip hidup seharga "harga murah" (tsamanan qalila). Padahal, rugi banget kalau akhirat kita taruhannya.

3. Realita Propaganda: Antara Cuan dan Tanggung Jawab Moral
Di lapangan, peran buzzer model begini tuh bahaya banget buat mental masyarakat kita:

  • Membela Asusila: Bikin maksiat kelihatan lumrah dan biasa aja lewat framing digital. Padahal Islam benci banget sama usaha menyebarkan keburukan (isyā'at al-fāḥisyah).
  • Melindungi Koruptor: Ikut bersekongkol menzalimi hak publik (al-i'anah 'ala al-zulum). Ingat, Rasulullah saw. melarang keras kita jadi backing orang zalim.
  • Buta Terhadap Rakyat Miskin: Menutup mata dari realitas sosial demi cari muka ke penguasa.

Jadi, sebijak apa pun kita merangkai kata di media sosial, ingat kalau jempol kita bakal dimintai pertanggungjawaban. Jangan sampai cuan sesaat bikin kita rugi total di hadapan Allah Swt., ya!

 

Foto: Ilustrasi (Pexels)

 

#BuzzerRp #HukumIslam #Koruptor #KeadilanSosial #IslamKaffah #PeringatanKeras #ViralIndonesia #EdukasiIslam #OpiniPublik #RenunganIslam