Kembali ke semua artikel
Pertamax Naik, Islam Ajarkan Cara Menghadapi Krisis Ekonomi
Berita Terkini 13 June 2026 5 menit baca

Pertamax Naik, Islam Ajarkan Cara Menghadapi Krisis Ekonomi

Ditulis oleh Ovi Shofianur

Kenaikan harga BBM nonsubsidi kembali menjadi perhatian publik. Setelah sebelumnya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa harga BBM subsidi dan LPG subsidi tidak akan naik hingga akhir 2026, masyarakat justru dikejutkan dengan lonjakan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter mulai 10 Juni 2026.

Meski kebijakan tersebut hanya berlaku untuk BBM nonsubsidi, dampaknya tetap dirasakan luas. Biaya transportasi berpotensi meningkat, ongkos distribusi barang ikut terdorong naik, dan pada akhirnya harga kebutuhan sehari-hari bisa semakin membebani masyarakat.

Di tengah kondisi ekonomi global yang belum stabil, situasi ini memunculkan kegelisahan baru. Namun bagi seorang muslim, ujian ekonomi bukan hanya soal angka dan kebijakan, melainkan juga ujian keimanan dan keteguhan hati.

Pertamax Naik, Kekhawatiran Masyarakat Bertambah
Pemerintah sebelumnya menyampaikan komitmen untuk menjaga daya beli masyarakat dengan mempertahankan harga BBM subsidi. Namun PT Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi berdasarkan evaluasi yang mempertimbangkan harga minyak dunia dan mekanisme yang ditetapkan pemerintah.

Harga Pertamax melonjak dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sementara Pertamax Green 95 naik menjadi Rp17.000 per liter. Kenaikan ini memicu kekhawatiran karena berpotensi memengaruhi biaya hidup secara keseluruhan.

Banyak keluarga kini harus menghitung ulang pengeluaran bulanan. Sebagian pelaku usaha kecil juga menghadapi dilema antara menaikkan harga atau menanggung beban operasional yang lebih besar.

Rasulullah Sudah Mengajarkan Sikap Saat Harga Melambung
Fenomena kenaikan harga sebenarnya bukan hal baru. Pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, masyarakat Madinah juga pernah mengalami lonjakan harga barang.

Para sahabat meminta Nabi menetapkan harga pasar, tetapi beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah-lah yang menetapkan harga, Yang Maha Menyempitkan, Yang Maha Melapangkan, dan Yang Maha Memberi rezeki." (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Hadis ini bukan berarti umat Islam pasif menghadapi persoalan ekonomi. Sebaliknya, ia mengajarkan bahwa setelah melakukan ikhtiar terbaik, hati tetap harus bergantung kepada Allah, bukan kepada fluktuasi pasar atau kondisi ekonomi semata. Karena rezeki pada hakikatnya berasal dari Allah, bukan dari nominal gaji atau stabilitas harga.

Kesulitan Ekonomi Sudah Allah Kabarkan
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengingatkan bahwa kehidupan akan dipenuhi berbagai ujian.

"Dan sungguh Kami pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS Al-Baqarah: 155).

Ayat ini menunjukkan bahwa kesulitan ekonomi bukan sesuatu yang aneh dalam kehidupan seorang mukmin. Yang membedakan adalah bagaimana seseorang meresponsnya.

Ada yang semakin dekat kepada Allah, ada pula yang justru tenggelam dalam keluhan, kemarahan, bahkan meninggalkan nilai-nilai agama demi mengejar keuntungan sesaat.

Jangan Sampai Krisis Ekonomi Menjadi Krisis Akhlak
Ketika biaya hidup meningkat, godaan untuk mencari jalan pintas juga semakin besar. Praktik riba, penipuan, penimbunan barang, hingga menghalalkan segala cara demi keuntungan bisa muncul ketika iman melemah.

Padahal Allah telah memberikan jaminan: "Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka." (QS Ath-Thalaq: 2-3).

Janji ini bukan berarti hidup tanpa kesulitan, tetapi Allah menjanjikan pertolongan dan jalan keluar bagi hamba yang tetap menjaga ketakwaannya.

Belajar dari Umar bin Khattab Saat Krisis Besar
Sejarah Islam mencatat peristiwa 'Am ar-Ramadah, masa paceklik hebat pada era Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu.

Saat rakyat mengalami kelaparan, Umar tidak hidup mewah. Beliau memilih merasakan penderitaan rakyatnya dengan membatasi makanan untuk dirinya sendiri. Ia membangun solidaritas sosial, meminta bantuan dari berbagai wilayah Islam, mendistribusikan bahan pangan, melarang penimbunan barang, hingga memimpin salat istisqa memohon pertolongan Allah.

Teladan ini menunjukkan bahwa menghadapi krisis membutuhkan dua hal sekaligus: ikhtiar nyata dan ketundukan kepada Allah.

Saatnya Menguatkan Solidaritas Sesama muslim
Di balik kenaikan harga, mungkin ada tetangga yang mulai kesulitan membeli beras, saudara yang kehilangan pekerjaan, atau pedagang kecil yang omzetnya menurun. Inilah saatnya memperkuat ukhuwah.

Allah berfirman: "Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan." (QS Al-Ma'idah: 2).

Membantu sesama, berbagi makanan, atau sekadar meringankan beban orang lain bisa menjadi amal yang jauh lebih bernilai daripada sekadar meluapkan kemarahan di media sosial.

Harga Bisa Naik, Tawakal Harus Semakin Tinggi
Nilai rupiah dapat melemah. Harga BBM bisa berubah. Biaya hidup mungkin semakin berat. Namun satu hal yang tidak boleh ikut turun adalah keyakinan seorang muslim kepada Rabb-nya.

Rasulullah bersabda: "Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang." (HR Tirmidzi).

Burung tetap terbang mencari makan, tetapi hatinya tidak bergantung pada alam. Begitu pula seorang muslim, tetap bekerja keras, hidup hemat, memperbanyak doa, menjaga ibadah, dan menolong sesama, sambil meyakini bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang bertakwa.

Di tengah ujian ekonomi, ketenangan bukan lahir dari banyaknya harta, melainkan dari keyakinan bahwa Ar-Razzaq masih mengatur rezeki setiap makhluk di bumi. Itulah bekal yang membuat seorang muslim tetap teguh ketika harga naik, tetapi iman tidak ikut runtuh.

 

Foto: UGM

 

#HargaBBMNaik #Pertamax #EkonomiIslam #RezekiDariAllah #Tawakal #UjianEkonomi #InspirasiIslam #Muhasabah #KrisisEkonomi #HargaPertamax

Sukai dan bagikan artikel ini

Komentar

0 tanggapan dari pembaca

Belum ada komentar untuk artikel ini.

Artikel menarik lainnya

Lanjutkan dengan membaca artikel menarik lainnya

Lihat semua