Perawat Dika Terseret Kasus Komentar Nirempati, RSA UGM Ambil Tindakan Tegas. Jaga Lisan, Ini Pelajaran Penting!
Siapa yang tidak geram melihat oknum tenaga kesehatan (nakes) melontarkan komentar sinis dan nirempati kepada pasien yang sedang berjuang? Kasus ini kembali menjadi sorotan setelah seorang perawat bernama Dika Purnomo Aji diduga turut berkomentar merendahkan terhadap curahan hati Yurizal Tri Chaerawan. Yurizal membagikan pengalamannya di media sosial tentang menunggu 8 jam untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit. Alih-alih mendapat simpati, ia justru dihujani komentar pedas dari oknum nakes yang seharusnya menjadi penolong.
Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM) Yogyakarta, tempat Dika bertugas, langsung bergerak cepat. Direktur Utama RSA UGM, Darwinto, mengungkapkan bahwa perawat tersebut telah dipanggil oleh tim etik dan hukum untuk menjalani investigasi. "Kelihatannya jam 2 ini proses pemanggilan investigasi oleh tim etik dan hukum dari RSA UGM," ungkap Darwinto. Ini adalah langkah tegas yang patut diapresiasi, menunjukkan bahwa institusi kesehatan tidak mentolerir perilaku yang merendahkan pasien.
Dikutip dari viva.co.id, setiap tenaga kesehatan di lingkungan RSA UGM diharuskan mematuhi standar etik yang berlaku. Pihaknya akan menjatuhkan sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku apabila ditemukan adanya pelanggaran dalam hasil pemeriksaan. "Kalau pun dia (terbukti) bersalah ya dikenakan teguran atau disiplin etik. Itu kita serahkan pada tim etik dan hukum yang bersangkutan," ujar Darwinto. Ini adalah pesan jelas bahwa profesi kesehatan tidak boleh dijalankan dengan arogansi dan kesombongan.
Islam mengajarkan kita untuk menjaga lisan dan menjauhkan diri dari menghina, mengolok-olok, mencibir, merendahkan, serta bersikap sombong. Sikap sombong dan angkuh sangat diharamkan dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian." (HR. Muslim). Seorang muslim, terutama tenaga kesehatan, harus memiliki hati yang lembut dan penuh empati, karena mereka adalah harapan terakhir bagi orang-orang yang sedang sakit.
Kasus ini adalah pelajaran berharga bagi kita semua. Di era media sosial, setiap kata yang kita ucapkan dapat tersebar luas dan memiliki dampak yang besar. Kita harus selalu berhati-hati dan memikirkan dampak dari setiap perkataan. Jangan sampai karena satu komentar yang tidak bertanggung jawab, kita justru merusak reputasi diri dan institusi. Semoga kejadian ini menjadi pengingat bagi semua nakes untuk selalu menjaga etika dan profesionalisme, serta menjadikan pelayanan pasien sebagai prioritas utama. Aamiin.
Foto: TikTok Yurizaltrich
#PerawatDika #KomentarNirempati #RSAUGM #TenagaKesehatan #Etika #Empati #Islam #Akhlak #MediaSosial #PelajaranHidup