Viral, Nakes Kasar ke Pasien di Medsos yang Berujung Meninggal Dunia. Ini Sangat Zalim, Harus Tobat!
Siapa yang tidak geram melihat oknum tenaga kesehatan (nakes) justru melontarkan komentar nirempati dan menghina pasien di media sosial? Baru-baru ini, sebuah unggahan pasien yang mengeluhkan pelayanan kesehatan viral dan mendapat komentar pedas dari oknum nakes. Kejadian ini sontak memicu kemarahan publik dan menjadi pengingat betapa pentingnya menjaga akhlak, terutama bagi mereka yang berprofesi sebagai penolong. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pun angkat bicara, menegaskan bahwa tindakan tersebut sangat tidak pantas.
Viralnya komentar nirempati dari oknum nakes menjadi sorotan tajam. Seorang pasien mengunggah keluhan tentang pelayanan yang diterimanya, dan alih-alih mendapat simpati atau solusi, ia justru dihujani komentar sinis dan merendahkan. Peristiwa ini mencerminkan adanya kesenjangan antara idealisme profesi kesehatan dan realita di lapangan, di mana sebagian oknum nakes justru menunjukkan sikap arogan dan tidak berperikemanusiaan.
Dikutip dari viva.co.id, Kemenkes buka suara dan menyatakan bahwa perilaku nakes yang menghina pasien tidak dapat ditoleransi. Mereka menegaskan bahwa setiap tenaga kesehatan wajib memberikan pelayanan yang terbaik dan menjaga etika, baik di dalam maupun di luar lingkungan kerja. Pernyataan ini adalah angin segar bagi masyarakat yang selama ini sering merasa terabaikan.
Pertama dan terpenting, Islam mengajarkan melalui hadits Nabi Muhammad SAW: "Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia berkata yang baik atau diam saja." Ini adalah prinsip dasar yang harus dipegang oleh setiap Muslim, termasuk para nakes. Mereka wajib menahan diri sekuat-kuatnya untuk melontarkan kata-kata hinaan, olok-olokan, dan ejekan kasar ke orang lain. Ganti dengan kata-kata yang baik atau diam saja sekalian. Ini berlaku pada perkataan di media sosial dengan siapa pun.
Kedua, semua tenaga kesehatan dilarang mengeluh, mengomplain, dan mencemooh pasien. Karena mereka adalah harapan terakhir pasien untuk berobat. Jangan sombong, angkuh, malas, arogan, dan egois merasa diri penting dan berjasa. Apalagi mengkritik keras pasien BPJS yang notabene tidak mampu. Kezaliman yang besar nyata jika nakes melakukan ini. Sungguh, perilaku ini merupakan cerminan dari hati yang keras dan jauh dari nilai-nilai kasih sayang yang diajarkan Islam. Seorang Muslim sejati, terlebih seorang yang profesinya mulia sebagai penolong, harusnya memiliki akhlak yang lembut dan penuh empati.
Kejadian ini seharusnya menjadi alarm bagi seluruh tenaga kesehatan untuk introspeksi diri. Jangan biarkan kesombongan dan egoisme merusak citra profesi yang mulia. Tobatlah, perbaiki akhlak, dan haramkan sekeras-kerasnya mengeluh atau menghina pasien. Karena setiap ucapan dan perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Semoga kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua untuk selalu menjaga lisan dan berbuat baik kepada sesama. Aamiin.
#TenagaKesehatan #Akhlak #Pasien #Empati #Islam #Kemenkes #KomentarNirempati #Viral #Ustadz #Tobat