Kembali ke semua artikel
Dokter Haji Gunakan Bahasa Ngapak untuk Edukasi Kesehatan Jemaah, Pesan Lebih Mudah Dipahami Lansia
Kabar Haji 21 June 2026 3 menit baca

Dokter Haji Gunakan Bahasa Ngapak untuk Edukasi Kesehatan Jemaah, Pesan Lebih Mudah Dipahami Lansia

Ditulis oleh Subhanhariadi Putra

MADINAH – Beragam cara dilakukan petugas kesehatan haji untuk memastikan jemaah tetap sehat selama berada di Tanah Suci. Salah satunya dilakukan Dokter Kloter SOC 75 Embarkasi Solo, dr. Putri Restu Wulandari, yang memilih menggunakan bahasa Ngapak saat memberikan edukasi kesehatan kepada jemaah asal Banyumas, Jawa Tengah.

Pendekatan tersebut dilakukan saat sosialisasi kesehatan di hotel tempat menginap jemaah di Madinah. Suasana yang biasanya berlangsung formal berubah lebih hangat dan akrab ketika pesan-pesan kesehatan disampaikan menggunakan bahasa daerah yang sehari-hari digunakan para jemaah.

Mayoritas jemaah Kloter SOC 75 berasal dari wilayah Banyumas dan sekitarnya. Karena itu, penggunaan bahasa Ngapak dinilai lebih efektif untuk menyampaikan berbagai informasi penting, terutama kepada jemaah lanjut usia.

"Kalau menggunakan bahasa yang akrab dengan keseharian mereka, pesan kesehatan lebih mudah diterima dan dipahami, terutama oleh jemaah lansia," ujar dr. Putri Restu Wulandari.

Sosialisasi kesehatan tersebut dilakukan setelah jemaah menyelesaikan rangkaian puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) serta tiba di Madinah untuk menjalani fase akhir sebelum kepulangan ke Tanah Air.

Dalam edukasi tersebut, jemaah diingatkan untuk menjaga kondisi tubuh dengan memperbanyak minum air putih, menghindari dehidrasi akibat cuaca panas Madinah, serta menjaga pola istirahat yang cukup.

Petugas juga mengajak jemaah untuk saling membantu, terutama kepada lansia dan penyandang disabilitas yang membutuhkan pendampingan selama beribadah maupun beraktivitas sehari-hari.

Ketua Kloter SOC 75, Ahmad Tantowi, menilai pendekatan menggunakan bahasa daerah menjadi salah satu cara efektif untuk membangun kedekatan antara petugas dan jemaah.

Menurutnya, jemaah terlihat lebih antusias mengikuti sosialisasi karena materi yang disampaikan terasa lebih dekat dan mudah dipahami.

Selain itu, petugas kesehatan juga mengingatkan pentingnya mengonsumsi oralit untuk menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh. Langkah tersebut dinilai penting mengingat suhu udara di Madinah masih cukup tinggi dan berpotensi menyebabkan dehidrasi.

Jemaah juga diimbau rutin menggunakan masker saat beraktivitas di luar hotel maupun di area Masjid Nabawi guna mengurangi risiko penularan penyakit.

Melalui pendekatan yang lebih personal dan komunikatif, petugas berharap kesadaran jemaah dalam menjaga kesehatan semakin meningkat sehingga seluruh rangkaian ibadah dan proses kepulangan ke Indonesia dapat berjalan lancar.

Pendekatan sederhana menggunakan bahasa daerah itu pun menjadi bukti bahwa pelayanan haji tidak hanya soal fasilitas dan layanan kesehatan, tetapi juga tentang membangun kedekatan emosional agar setiap pesan dapat diterima dengan lebih baik oleh para tamu Allah.

Aditya Nugroho - Media Center Haji 2026

Sukai dan bagikan artikel ini

Komentar

0 tanggapan dari pembaca

Belum ada komentar untuk artikel ini.

Artikel menarik lainnya

Lanjutkan dengan membaca artikel menarik lainnya

Lihat semua