Di tengah cepatnya laju zaman, tidak sedikit anak muda dari Generasi Z yang merasa canggung atau bahkan asing saat melangkah ke masjid. Kesan masjid yang kaku, sepi setelah waktu salat usai, atau sekadar dianggap ruang khusus orang tua menjadi dinding pemisah tersendiri. Padahal, rumah Allah Swt. ini seharusnya menjadi pusat peradaban dan ruang paling hangat bagi generasi penerus bangsa.

Mendekatkan kembali Gen Z dengan masjid bukanlah misi yang mustahil. Dengan pendekatan yang ramah, relevan, dan adaptif, masjid dapat bertransformasi menjadi ruang yang dicintai anak muda. Lalu, apa saja tiga langkah kunci yang harus dilakukan untuk merangkul kembali semangat mereka?

1. Menjadikan Masjid sebagai "Third Place" yang Inklusif

Langkah awal yang sangat krusial adalah mengubah persepsi fungsi bangunan. Masjid perlu hadir sebagai third place atau ruang ketiga bagi anak muda setelah rumah dan tempat belajar atau bekerja. Masjid tidak boleh lagi langsung dikunci rapat begitu shalat berjemaah usai. Sebaliknya, area masjid bisa menyediakan ruang baca, area diskusi yang nyaman, fasilitas Wi-Fi gratis untuk mengerjakan tugas, hingga wadah berjejaring bagi komunitas kreatif.

Konsep ini sejalan dengan pandangan Ustaz Abdul Somad yang sering menekankan pentingnya memakmurkan masjid dengan kegiatan pemuda. Menurut beliau, jika anak-anak muda sudah meramaikan masjid untuk belajar dan bersilaturahmi, maka masa depan umat akan terjaga dari pengaruh negatif lingkungan luar.

2. Mengubah Peran Anak Muda dari Objek Menjadi Subjek Pengelola

Anak muda tidak akan betah jika hanya terus-menerus ditempatkan sebagai pendengar pasif atau objek kegiatan semata. Kunci kedua adalah memberikan kepercayaan dan tanggung jawab penuh kepada mereka untuk menjadi pelopor sekaligus pengelola acara masjid. Biarkan mereka berkreasi mengelola media sosial, membuat konten podcast dakwah, merancang event olahraga, hingga mengeksekusi aksi sosial kepemudaan.

Ketika diberi ruang kepercayaan, kreativitas anak muda akan melesat pesat. Mereka tidak lagi merasa sekadar menjadi "tamu", melainkan merasa memiliki dan bertanggung jawab untuk merawat serta meramaikan rumah ibadah tersebut secara berkelanjutan.

3. Menerapkan Konsep yang Relevan dan Digital

Kunci ketiga adalah menerapkan pendekatan modern yang sesuai dengan karakter Gen Z. Masjid haruslah memberi makna bagi kehidupan anak muda, mudah diakses, menjadi tempat asyik untuk bersosialisasi, menjadi tempat yang menginsiprasi, dan ramah digital teknologi. Di era serba cepat ini, masjid harus mampu hadir di ruang digital yang menjadi tempat berkumpul harian anak muda.

Terkait adaptasi ini, Ustaz Adi Hidayat dalam berbagai kajiannya menegaskan bahwa dakwah harus disampaikan dengan cara yang dipahami oleh zamannya. Beliau menyampaikan bahwa teknologi dan media sosial adalah sarana modern yang sangat efektif untuk memanggil kembali anak muda ke masjid. Penggunaan strategi digital yang ciamik akan membuat pesan-pesan kebaikan tersampaikan dengan cara yang estetik dan segar.

Membumikan kembali fungsi masjid sebagai pusat kebudayaan dan kreativitas adalah tugas kita bersama. Ketika masjid berhasil menjadi tempat yang aman, ramah, serta menginspirasi, anak muda dengan sukarela akan menjadikan masjid sebagai rumah kedua mereka.

 

Foto: Pexels

 

#AnakMudaKeMasjid #PemudaHijrah #MasjidFriendly #DakwahDigital #UstazAbdulSomad #UstazAdiHidayat #GenerasiZ #MasjidRamahAnak #KajianIslam #SelfReminder