Kisah Toleransi dari Jogja: Biarawati Ini Pilih Kuliah di Universitas 'Aisyiyah
Keindahan toleransi kembali tercipta di panggung pendidikan Indonesia. Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta membuktikan komitmennya dalam membangun lingkungan akademik yang inklusif dan ramah bagi keberagaman. Momen haru sekaligus menginspirasi ini hadir lewat sosok Sebastiana Bwarleling, seorang biarawati Katolik asal Kepulauan Tanimbar, Maluku, yang resmi menjadi mahasiswa baru D3 Radiologi Unisa Yogyakarta.
Kisah hangat ini menjadi bukti nyata bahwa perbedaan iman tidak pernah menjadi penghalang untuk menuntut ilmu demi kemanusiaan. Di kampus berbasis Islam yang megah ini, pintu kebaikan terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin belajar dan memberikan manfaat bagi sesama.
Mandat Kemanusiaan dan Alasan Memilih Unisa
Sebastiana merupakan anggota Kongregasi Suster-Suster Dina Santo Yoseph (DSY) Manado. Keputusannya merantau ke Yogyakarta lahir dari sebuah misi mulia, yaitu memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan ahli di Rumah Sakit Dharma Ibu Ternate, Maluku Utara. Di rumah sakit tersebut, layanan radiologi belum memiliki penanggung jawab khusus dari kalangan suster.
Pilihan untuk menimba ilmu di Unisa Yogyakarta diambil setelah mempertimbangkan kualitas pendidikan dan kesiapan fasilitas kampus. “Saya memilih Unisa Yogyakarta karena pendidikan kesenangannya unggul dan sarana prasarananya sangat memadai untuk mengembangkan minat,” ujar Sebastiana saat pembukaan Masa Ta’aruf (Mataf) Unisa Yogyakarta.
Selain keunggulan akademik, Sebastiana merasa sangat tersentuh dengan sambutan hangat yang diterimanya sejak awal melangkahkan kaki di kampus. Rasa canggung akibat perbedaan latar belakang dan usia perlahan sirna. “Saya memilih Unisa Yogyakarta karena tempat ini punya rasa toleransi yang tinggi dan terbuka bagi siapa saja, bahkan saya seorang biarawati diterima dengan sangat baik,” tambahnya dengan penuh haru.
Terbiasa dalam Keberagaman dan Membaur dengan Hangat
Bagi Sebastiana, berinteraksi dengan umat Islam bukanlah hal baru. Pengalaman bertugas di Rumah Sakit Ternate yang mayoritas karyawannya muslim membuatnya terbiasa menjalin komunikasi yang harmonis. Rasa canggung yang sempat muncul saat beradaptasi dengan teman-teman baru yang usianya jauh lebih muda justru berubah menjadi ikatan kekeluargaan yang indah.
Kebersamaan di kelompok prapembelajaran seperti Khafilah 37 menjadi ruang hangat bagi Sebastiana untuk membaur. Teman-teman mahasiswa baru menyambut keberadaannya tanpa kecanggungan, menciptakan suasana belajar yang saling mendukung dan merangkul satu sama lain.
Pendidikan Sebastiana selama beberapa tahun ke depan sepenuhnya didukung oleh Rumah Sakit Dharma Ibu Ternate. Setelah menyelesaikan studinya, ia siap kembali ke Maluku Utara untuk mengabdikan keahliannya di bidang radiologi demi melayani masyarakat tanpa membeda-bedakan latar belakang.
Wajah Inklusif Unisa Yogyakarta untuk Indonesia
Kehadiran Sebastiana hanyalah satu dari sekian banyak cerita indah keberagaman di Unisa Yogyakarta. Pada tahun akademik ini, kampus menerima puluhan mahasiswa non-Muslim yang berasal dari agama Katolik, Kristen, dan Hindu. Rektor Unisa Yogyakarta, Warsiti, menegaskan bahwa kampus menyambut hangat seluruh mahasiswa baru yang berasal dari 34 provinsi serta empat negara tetangga.
Warsiti menegaskan bahwa keberagaman adalah kekayaan bangsa yang harus dirawat dengan rasa saling menghormati dan integritas tinggi. Kehadiran ruang inklusif ini membuktikan bahwa nilai-nilai Islam yang rahmatan lil 'alamin benar-benar diterapkan dalam kehidupan kampus sehari-hari.
Prinsip inklusivitas ini ditegaskan kembali oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat 'Aisyiyah, Salmah Orbayinah. “Tidak boleh ada satu pun yang tertinggal (no one left behind). Unisa Yogyakarta menyediakan fasilitas untuk menjadikan kalian generasi hebat, tidak hanya pintar, tapi juga berkarakter dan peduli sesama,” ungkap Salmah.
Kisah indah dari Unisa Yogyakarta ini mengajarkan kita bahwa ketika kemanusiaan dan pendidikan berpadu, sekat-sekat perbedaan akan runtuh dengan sendirinya. Mari kita terus merawat toleransi dan menebar kebaikan di mana pun kita berada.
Foto: Muhammadiyah
#UnisaYogyakarta #ToleransiBeragama #InspirasiPendidikan #BiarawatiKuliah #RahmatanLilAlamin #KampusInklusif #IndahnyaToleransi #KisahInspiratif #D3Radiologi #YogyakartaInklusif