Nasaruddin Umar Bicara Tantangan Peradaban Baru PBNU
Menteri Agama RI KH Nasaruddin Umar angkat bicara mengenai derasnya dorongan yang meminta dirinya maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Nama ulama besar ini mencuat jelang gelaran Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Meski mengaku belum pernah mendeklarasikan diri secara resmi, respons hangat dari para senior dan kiai sepuh membuatnya mempertimbangkan amanah tersebut dengan bijak.
Bagi Nasaruddin, dorongan ini menjadi ruang perenungan mendalam sebagai kader yang dibesarkan di lingkungan Nahdlatul Ulama. Kendati demikian, ia menyerahkan seluruh proses demokrasi jam'iyah tersebut kepada para pemegang hak suara.
"Saya terus terang per hari ini belum pernah menyatakan deklarasi atau apa pun, tapi banyak senior, teman-teman, para suhu, baik para sahabat, sampai menyatakan: ketika Anda diminta NU lantas menolak, itu pertanda egois, itu zalim. Anda dibesarkan oleh NU, giliran NU meminta Anda, Anda mencari zona nyaman," ujar Nasaruddin, dikutip dari laman resmi Nahdlatul Ulama.
Ia menegaskan pentingnya kesiapan seorang kader ketika dibutuhkan oleh organisasi. Namun, dirinya menekankan bahwa keputusan tertinggi ada pada muktamirin. "Bagi saya berkesan. Jadi ketika kita diminta oleh para senior, maka kita sebagai kader harus bersedia. Tapi dengan catatan bahwa siapa pun nanti yang akan diterima muktamirin, maka kita harus menerima," tambahnya.
Pergeseran Episentrum Peradaban Islam ke Indonesia
Di luar dinamika bursa kepemimpinan, Nasaruddin menyoroti momentum strategis yang sedang dihadapi dunia Islam saat ini. Kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi pusat studi dan perkembangan keilmuan Islam dinilai sedang mengalami tekanan hebat akibat konflik geopolitik yang tak kunjung usai. Situasi tersebut membuka peluang emas bagi kawasan Asia Tenggara, khususnya Indonesia, untuk mengambil peran sebagai pusat baru peradaban Islam dunia.
Stabilitas ekonomi, keamanan yang kondusif, serta tradisi keislaman yang ramah menjadi modal utama Indonesia. Bahkan, potensi ini mendapat perhatian serius dari tokoh-tokoh internasional yang melihat Indonesia sebagai rumah paling aman bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan diplomasi perdamaian Islam modern.
Peluang emas ini menurut Nasaruddin Umar, membawa konsekuensi besar bagi organisasi keagamaan di tanah air:
1. Kesiapan Institusi: PBNU sebagai organisasi Islam terbesar harus mematangkan kapasitas internal agar mampu menjadi tuan rumah peradaban Islam global.
2. Keseimbangan Intelektual: Pemimpin NU dituntut memiliki wawasan luas agar sejajar dalam mengawal isu-isu strategis bersama elemen bangsa lainnya.
3. Diplomasi Internasional: Memperkuat jaringan global untuk menyebarkan nilai-nilai Islam rahmatan lil 'alamin ke mancanegara.
Kriteria Pemimpin PBNU di Era Islam Modern
Menghadapi tantangan peradaban yang makin kompleks, syarat kepemimpinan di tubuh PBNU tentu mengalami pergeseran. Legitimasi yang hanya mengandalkan faktor kesenioran, garis keturunan atau "darah biru", maupun besarnya basis jamaah dianggap tidak lagi cukup. PBNU membutuhkan nakhoda yang memiliki kecakapan manajerial tingkat tinggi, baik secara makro maupun mikro.
Nasaruddin menilai, perpaduan antara visi strategis global dan pengalaman praktis di lapangan menjadi syarat mutlak bagi calon ketua umum. Pemimpin masa depan harus mampu mengonsolidasikan potensi organisasi dari tingkat tapak hingga panggung dunia.
"NU memerlukan figur manajerial, bukan leader yang hanya mengandalkan kesenioran, darah biru, jamaah, tetapi tidak punya bakat mikromanajemen. Yang diperlukan adalah orang yang punya teori besar dan pengalaman praktis," tegas Guru Besar Ilmu Tafsir tersebut.
Kriteria ini selaras dengan aspirasi dari tingkat pengurus cabang. Ketua Tanfidziyah PCNU Bungo, Kiai Syakroni, menilai sosok Nasaruddin Umar memiliki kapasitas keilmuan yang dalam, rekam jejak birokratis yang matang, serta jaringan internasional yang luas. Pengalaman beliau sebagai akademisi, mantan Wakil Menteri Agama, hingga Menteri Agama RI di Kabinet Merah Putih menjadi modal berharga untuk membawa NU makin diperhitungkan di kancah global.
Foto: NU Online
#PBNU #MuktamarNU #NasaruddinUmar #MenteriAgama #IslamIndonesia #PeradabanIslam #NahdlatulUlama #KabarNU #IslamModerat #DinamikaMuktamar