Empati ala Rasulullah: Lembut pada Sesama, Tegas pada Maksiat
Di era media sosial, kata *empati* sering dipahami secara keliru.
Ada yang menganggap empati berarti selalu membenarkan pilihan orang lain. Ada pula yang merasa menegur kemaksiatan adalah bukti tidak punya empati.
Padahal, Islam mengajarkan sesuatu yang berbeda. Rasulullah saw. adalah teladan terbaik dalam berempati. Beliau sangat lembut kepada manusia, tetapi tidak pernah berkompromi dengan dosa dan kemaksiatan.
Lalu, seperti apa empati menurut Islam?
Apa Itu Empati?
Empati adalah kemampuan memahami dan merasakan apa yang sedang dialami orang lain, lalu meresponsnya dengan kasih sayang dan kepedulian.
Empati berbeda dengan simpati. Simpati membuat seseorang ikut merasa iba. Empati mendorong seseorang hadir, membantu, dan mencari solusi tanpa menghakimi.
Dalam Islam, empati menjadi bagian dari akhlak seorang mukmin. Rasulullah saw. bersabda,
"Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa seorang Muslim tidak boleh bersikap acuh terhadap penderitaan orang lain.
Empati Rasulullah Tidak Pernah Pilih Kasih
Salah satu contoh paling terkenal terjadi ketika seorang Badui buang air kecil di dalam masjid. Para sahabat marah dan ingin menghentikannya dengan keras.
Namun Rasulullah saw. justru meminta mereka membiarkannya menyelesaikan hajatnya terlebih dahulu. Setelah itu, beliau memerintahkan agar bekasnya disiram air, lalu menasihati orang tersebut dengan lembut bahwa masjid bukan tempat untuk perbuatan seperti itu.
Beliau tidak membenarkan kesalahan orang itu. Namun beliau juga tidak mempermalukannya di depan banyak orang.
Inilah empati yang mendidik.
Contoh lain adalah ketika Rasulullah saw. mengunjungi orang sakit, menyantuni anak yatim, membantu para janda, bahkan tetap mendoakan orang yang pernah menyakitinya.
Saat dilempari batu di Thaif hingga berdarah, beliau menolak tawaran malaikat untuk membinasakan penduduknya.
Sebaliknya, Rasulullah saw. berdoa agar keturunan mereka kelak mendapat hidayah.
Empati beliau lahir dari kasih sayang, bukan dari kebencian.
Empati Bukan Berarti Membiarkan Kemaksiatan
Di sinilah banyak orang keliru.
Sebagian beranggapan bahwa menerima semua pilihan hidup seseorang adalah bentuk empati. Akibatnya, segala bentuk kemaksiatan dianggap tidak boleh dikritik karena alasan toleransi atau menghargai perasaan.
Islam tidak mengajarkan demikian.
Empati ditujukan kepada pelakunya sebagai sesama manusia. Adapun kemaksiatan tetap harus dipandang sebagai sesuatu yang salah.
Rasulullah saw. sangat penyayang kepada para pelaku dosa yang ingin berubah. Namun beliau tetap menjelaskan mana yang halal dan mana yang haram.
Beliau tidak pernah mengubah hukum Allah Swt. demi menyenangkan hati manusia.
Inilah keseimbangan yang sering hilang dalam kehidupan saat ini.
Ustaz Adi Hidayat: Bedakan Kasih Sayang dan Persetujuan
Ustaz Adi Hidayat pernah menjelaskan, "Mencintai pelakunya bukan berarti mencintai perbuatannya."
Dalam kesempatan lain beliau juga menegaskan, "Kasihi orangnya, benci maksiatnya."
Pesan ini menjadi kaidah penting dalam berdakwah. Seorang muslim tidak boleh membenci manusia hanya karena dosanya. Namun ia juga tidak boleh menganggap dosa sebagai sesuatu yang biasa.
Kasih sayang harus mendorong seseorang agar kembali kepada jalan Allah Swt., bukan membuatnya semakin nyaman dalam kemaksiatan.
Foto: Pexels
## Cara Meneladani Empati Rasulullah
Empati ala Rasulullah saw. bisa dimulai dari hal sederhana.
Pertama, dengarkan orang lain sebelum memberi penilaian.
Kedua, bantu orang yang sedang kesulitan tanpa merendahkan harga dirinya.
Ketiga, ketika melihat orang berbuat salah, dahulukan nasihat yang lembut daripada celaan yang mempermalukan.
Keempat, doakan orang yang sedang terjerumus dalam dosa agar Allah Swt. membukakan pintu hidayah baginya.
Kelima, tetap pegang teguh prinsip syariat. Jangan mengubah yang haram menjadi halal hanya agar dianggap lebih ramah atau lebih modern.
## Empati yang Mengantarkan pada Hidayah
Empati dalam Islam bukan sekadar ikut merasakan penderitaan orang lain. Empati adalah kasih sayang yang mengantarkan seseorang menuju kebaikan.
Rasulullah saw. menunjukkan bahwa kelembutan tidak sama dengan kelemahan. Beliau mengasihi manusia tanpa pernah menggadaikan prinsip agama.
Karena itu, saat menghadapi orang yang berbuat salah, teladan Rasulullah saw. sangat jelas. Rangkul manusianya, doakan hidayahnya, bantu jika membutuhkan, tetapi jangan pernah menganggap kemaksiatan sebagai sesuatu yang wajar.
**#EmpatiRasulullah #AkhlakRasul #UstazAdiHidayat #KajianIslam #DakwahIslam #MuslimMilenial #Hijrah #AkhlakMulia #IslamRahmatanLilAlamin #GoogleDiscover**