Kembali ke semua artikel
Bu Muslimah Berpulang, Warisannya Lebih dari Laskar Pelangi
Muslimah Inspiratif 29 June 2026 4 menit baca

Bu Muslimah Berpulang, Warisannya Lebih dari Laskar Pelangi

Ditulis oleh Ovi Shofianur

Dunia pendidikan Indonesia berduka. Muslimah Hafsari, guru yang menjadi inspirasi tokoh Ibu Mus dalam novel Laskar Pelangi, telah berpulang.

Kepergiannya meninggalkan duka bagi banyak orang. Namun, lebih dari itu, Bu Muslimah meninggalkan warisan yang jauh lebih berharga daripada sekadar kisah dalam novel dan film. Ia mewariskan teladan tentang arti menjadi guru yang mengajar dengan hati, bahkan ketika hidup dipenuhi keterbatasan.

Nama Bu Muslimah dikenal luas setelah penulis Andrea Hirata mengabadikan sosoknya sebagai Ibu Mus dalam novel Laskar Pelangi yang terbit pada 2005. Novel tersebut kemudian diangkat menjadi film pada 2008 dan menjadi salah satu karya sastra Indonesia paling berpengaruh.

Mengajar Sejak Usia 16 Tahun
Jauh sebelum namanya dikenal jutaan orang, Bu Muslimah telah mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan.

Ia merupakan lulusan Sekolah Kepandaian Putri Muhammadiyah. Pada usia baru 16 tahun, tepatnya pada 1971, ia mulai mengajar di SD Muhammadiyah Gantung, Belitung. Sekolah itu bukan sekolah biasa. Lembaga tersebut merupakan sekolah yang dirintis oleh kakeknya sendiri.

Dedikasinya membuat ia dipercaya menjadi Kepala SD Muhammadiyah Gantung pada 1975 hingga 1984.

Di masa-masa awal pengabdian, kehidupan Bu Muslimah jauh dari kata berkecukupan. Ia hanya menerima gaji sekitar Rp7.000 setiap bulan. Bahkan, pada masa tertentu, ia mengajar tanpa menerima gaji sama sekali.

Kondisi tersebut tidak membuatnya meninggalkan profesi guru. Baginya, mengajar adalah bentuk ibadah dan pengabdian kepada masyarakat.

Tetap Mengajar Meski Sekolah Hampir Roboh
Salah satu kisah yang paling dikenang adalah ketika Bu Muslimah tetap datang ke sekolah meski hujan deras mengguyur. Kala itu usianya baru sekitar 17 tahun. Ia berjalan menuju sekolah hanya dengan sehelai pelepah daun pisang sebagai pelindung dari hujan.

Sesampainya di sekolah, bangunan yang nyaris roboh membuat murid-murid ketakutan. Alih-alih membubarkan kelas, Bu Muslimah menenangkan mereka terlebih dahulu. Setelah hujan reda, proses belajar mengajar tetap berlangsung seperti biasa.

Peristiwa sederhana itu menggambarkan satu hal. Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti mendidik.

Semangat tersebut kemudian menjadi ruh utama dalam kisah Laskar Pelangi, yakni keyakinan bahwa kemiskinan bukan penghalang untuk meraih pendidikan dan prestasi.

Mengabdi Puluhan Tahun
Pada 1986, Bu Muslimah diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil dan mengajar di SD Negeri 1 Lintang. Setelah itu, ia melanjutkan pengabdian di SD Negeri 6 Gantung hingga memasuki masa pensiun pada 2012. Namun, pensiun tidak membuatnya berhenti menjadi guru.

Ia tetap membuka pintu rumahnya bagi anak-anak yang mengalami kesulitan belajar, termasuk anak berkebutuhan khusus. Mereka diajari membaca, menulis, dan berhitung tanpa memungut biaya.

Bagi Bu Muslimah, menjadi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan hidup yang terus dijalankan selama masih memiliki kemampuan untuk berbagi ilmu.

Penghargaan dari Presiden SBY
Dedikasi panjang tersebut mendapat apresiasi dari negara. Pada 2008, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan Satyalancana Pendidikan kepada Bu Muslimah sebagai penghargaan atas ketulusan dan pengabdiannya di dunia pendidikan.

Meski demikian, Bu Muslimah mengaku penghargaan itu terasa terlalu besar untuk dirinya. Ia justru berharap kisah hidupnya dapat menginspirasi para guru agar terus memberikan yang terbaik kepada peserta didik, apa pun kondisi yang dihadapi.

Kerendahan hati itu menjadi cerminan karakter Bu Muslimah yang selama puluhan tahun lebih memilih bekerja dalam diam daripada mencari pengakuan.

Guru yang Mengubah Masa Depan
Kisah Bu Muslimah mengingatkan bahwa perubahan besar sering kali lahir dari ruang kelas sederhana.

UNESCO berkali-kali menegaskan bahwa kualitas guru merupakan faktor paling menentukan dalam keberhasilan pendidikan. Guru tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga membentuk karakter, kepercayaan diri, dan masa depan peserta didik.

Hal itu terbukti pada murid-murid SD Muhammadiyah Gantung yang kemudian menginspirasi lahirnya Laskar Pelangi, sebuah karya yang telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan memperkenalkan wajah pendidikan Indonesia kepada dunia.

Islam Memuliakan Guru
Dalam Islam, kedudukan guru sangat tinggi karena mereka menjadi perantara sampainya ilmu kepada generasi berikutnya.

Allah Swt. berfirman: "...Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat..." (QS. Al Mujadilah: 11).
Rasulullah saw. juga bersabda: "Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, bahkan semut di lubangnya dan ikan di laut, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia." (HR. Tirmidzi).

Hadis tersebut menggambarkan betapa besar kemuliaan orang yang mendedikasikan hidupnya untuk mengajarkan ilmu yang bermanfaat.

Selamat Jalan, Bu Muslimah
Bu Muslimah telah berpulang. Namun, ketulusannya akan terus hidup melalui murid-murid yang pernah ia didik, guru-guru yang terinspirasi olehnya, dan jutaan pembaca yang mengenal sosok Ibu Mus lewat Laskar Pelangi.

Ia membuktikan bahwa seorang guru tidak harus mengajar di sekolah megah untuk mengubah dunia. Dengan hati yang tulus, ruang kelas sederhana pun mampu melahirkan harapan besar.

 

Foto: Instagram/@suaraaisyiyah

 

#BuMuslimah #LaskarPelangi #AndreaHirata #GuruInspiratif #PendidikanIndonesia #Muhammadiyah #Belitung #Islam #Inspirasi #GuruHebat

Sukai dan bagikan artikel ini

Komentar

0 tanggapan dari pembaca

Belum ada komentar untuk artikel ini.

Artikel menarik lainnya

Lanjutkan dengan membaca artikel menarik lainnya

Lihat semua