Guru Honorer dan Anggaran Pendidikan, Sudahkah Tepat Sasaran?
Pendidikan yang berkualitas tidak hanya ditentukan oleh megahnya gedung sekolah atau canggihnya teknologi pembelajaran.
Di balik lahirnya generasi yang cerdas dan berakhlak, ada sosok guru yang setiap hari mendidik, membimbing, dan menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada anak didiknya.
Karena itu, penyelesaian persoalan guru honorer tidak semestinya dipandang sekadar sebagai urusan administrasi atau anggaran. Ini adalah investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.
Belum lama ini, ahli dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI dalam sidang uji materi di Mahkamah Konstitusi (MK), Prof. Cecep Darmawan, menegaskan bahwa pemerintah perlu memberikan perhatian lebih besar terhadap penyelesaian guru honorer, baik yang berstatus penuh waktu maupun paruh waktu.
Menurutnya, pengangkatan guru yang memenuhi syarat menjadi aparatur sipil negara (ASN) harus menjadi salah satu prioritas kebijakan pendidikan nasional.
"Pengangkatan guru yang memenuhi syarat menjadi ASN merupakan bagian penting dari upaya peningkatan kualitas pendidikan nasional dan harus menjadi prioritas kebijakan pendidikan ke depan," tegas Prof. Cecep Darmawan dalam sidang di MK, Selasa (23/6/2026).
Guru Adalah Penentu Masa Depan Bangsa
Guru bukan sekadar pengajar yang menyampaikan materi pelajaran. Mereka adalah pendidik yang membentuk karakter, membangun cara berpikir, sekaligus menjadi teladan bagi peserta didik.
Tidak berlebihan jika guru kerap disebut sebagai orang tua kedua bagi anak-anak.
Di sekolah, mereka mendampingi proses tumbuh kembang siswa, memberikan nasihat, menguatkan ketika anak mengalami kesulitan, bahkan sering kali menjadi tempat berbagi cerita yang tidak sempat disampaikan kepada orang tua di rumah.
Karena besarnya peran tersebut, sudah semestinya profesi guru mendapatkan penghormatan yang layak, baik dari masyarakat maupun negara.
Menghormati Guru adalah Bagian dari Adab
Dalam tradisi Islam, memuliakan guru merupakan bagian dari adab dalam menuntut ilmu. Keberkahan ilmu tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh sikap hormat kepada orang yang mengajarkannya.
Ustaz Adi Hidayat dalam berbagai kajiannya kerap mengingatkan bahwa guru memiliki kedudukan yang sangat mulia karena menjadi perantara sampainya ilmu kepada manusia.
UAH mengatakan, "Kalau ingin mengubah sebuah peradaban, maka perbaikilah gurunya. Karena guru yang baik akan melahirkan murid yang baik, dan murid yang baik akan membangun peradaban yang baik."
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kualitas sebuah bangsa sangat bergantung pada kualitas para pendidiknya. Ketika guru dihargai dan diberi ruang untuk berkembang, manfaatnya akan dirasakan oleh seluruh masyarakat.
Guru Layak Mendapat Kehidupan yang Sejahtera
Di balik dedikasi mereka, masih banyak guru honorer yang harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup dengan penghasilan yang jauh dari kata memadai.
Padahal, mereka memikul tanggung jawab besar dalam mendidik generasi penerus bangsa.
Sudah saatnya kesejahteraan guru dipandang sebagai kebutuhan mendasar, bukan sekadar pelengkap dalam kebijakan pendidikan. Guru yang hidup dengan tenang dan layak akan lebih fokus menjalankan tugasnya mendidik anak-anak.
Masyarakat pun perlu mengubah cara pandang terhadap profesi guru. Sebutan "pahlawan tanpa tanda jasa" bukan berarti mereka harus terus berkorban tanpa memperoleh penghargaan yang pantas. Justru karena jasa mereka begitu besar, negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan kesejahteraan para pendidik.
Anggaran Pendidikan Harus Tepat Sasaran
Selain pengangkatan guru honorer, Prof. Cecep Darmawan juga menekankan pentingnya distribusi anggaran pendidikan yang benar-benar menjawab kebutuhan riil sekolah.
Menurutnya, pemenuhan standar nasional pendidikan, peningkatan kompetensi guru, kesejahteraan tenaga pendidik, kualitas pembelajaran, hingga penyediaan sarana dan prasarana harus tetap menjadi prioritas.
Pandangan serupa disampaikan ahli DPR lainnya, Oce Madril. Dosen Hukum Tata Negara Universitas Gadjah Mada itu mengingatkan bahwa amanat konstitusi telah menegaskan alokasi anggaran pendidikan minimal 20 persen dari APBN maupun APBD.
Artinya, pendidikan memang menjadi program wajib negara yang tidak boleh diabaikan.
Menghargai Guru Berarti Menjaga Masa Depan Anak
Menghormati guru tidak cukup diwujudkan melalui ucapan saat Hari Guru Nasional. Sikap menghargai dapat dimulai dari hal sederhana, seperti menjaga adab kepada guru, mendukung tugas mereka dalam mendidik anak, serta mendorong hadirnya kebijakan yang berpihak kepada kesejahteraan para pendidik.
Sebab, ketika guru dimuliakan dan hidup dengan layak, mereka dapat mencurahkan seluruh tenaga dan pikirannya untuk mendidik generasi yang berilmu, berakhlak, serta siap membangun Indonesia di masa depan.
Foto: AI Generated
#Guru #GuruHonorer #PendidikanIndonesia #KesejahteraanGuru #AdiHidayat #Pendidikan #ASN #GenerasiEmas #Akhlak #IndonesiaMaju