Anak bisa menjadi korban konflik orang dewasa tanpa pernah memahami apa yang sebenarnya terjadi. Di dunia nyata, ia mungkin dijauhi, dihina, atau dipermalukan.

Di media sosial, serangannya bisa lebih jauh. Foto disebarkan, komentar jahat ditulis, identitas dibongkar, lalu ejekan terus berulang. Inilah salah satu bentuk cyberbullying yang bisa meninggalkan luka panjang pada anak.

Situasinya semakin rumit ketika pelaku sebenarnya memiliki masalah dengan ayah atau ibu si anak. Karena marah kepada orang tuanya, anak dari pasangan tersebut justru dijadikan sasaran. Padahal, anak tidak ikut menciptakan konflik itu. Ia juga tidak bertanggung jawab atas kesalahan orang tuanya.

Anak Tidak Boleh Dijadikan Pelampiasan
Cyberbullying bukan sekadar komentar kasar. Anak yang terus-menerus menerima penghinaan di internet bisa mengalami rasa malu, takut, menarik diri, kehilangan kepercayaan diri, sulit berkonsentrasi, bahkan mengalami gangguan pada kesehatan mental.

UNICEF juga mengingatkan bahwa perundungan di dunia maya dapat membuat korban merasa tidak aman di rumah sekalipun karena serangan bisa datang kapan saja melalui perangkat digital.

Masalahnya, jejak digital bisa bertahan lama. Satu foto yang dipermalukan atau satu video yang dijadikan bahan ejekan dapat disalin, disebarkan, dan dilihat banyak orang.

Karena itu, orang dewasa perlu berhenti berpikir bahwa anak akan “terbiasa” jika sering dihina.

Anak bukan tempat membuang kemarahan orang dewasa.

Jika seseorang memiliki persoalan dengan ayah atau ibu seorang anak, persoalan itu harus diselesaikan dengan orang yang bersangkutan. Menyerang anak hanya karena hubungan darah atau keluarganya merupakan bentuk ketidakadilan.

Islam Melarang Menyakiti dan Merendahkan
Islam sangat tegas dalam menjaga kehormatan manusia. Allah Swt. berfirman dalam QS Al-Hujurat ayat 11 agar orang beriman tidak merendahkan, mencela, atau memanggil orang lain dengan gelar yang buruk.

Larangan ini menjadi semakin penting ketika sasaran penghinaan adalah anak yang belum memiliki kemampuan matang untuk menghadapi tekanan sosial.

Rasulullah saw. juga mengajarkan bahwa seorang muslim adalah orang yang membuat muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya. Pesan tersebut menunjukkan bahwa ucapan bisa menjadi sumber bahaya ketika digunakan untuk menyakiti orang lain.

Di media sosial, “lisan” memiliki bentuk baru. Jari yang mengetik komentar, membuat unggahan, membagikan foto, atau menyebarkan video juga dapat menjadi alat untuk menyakiti.

Karena itu, jangan merasa dosa hilang hanya karena penghinaan dilakukan melalui layar.

Jangan Membawa Dosa Orang Tua kepada Anak
Ada prinsip penting dalam Al-Qur'an yang perlu diingat ketika konflik keluarga terjadi. Seseorang tidak memikul dosa orang lain. Prinsip ini disebut antara lain dalam QS Al-An'am ayat 164 dan QS Fatir ayat 18.

Artinya, kesalahan seorang ayah tidak otomatis menjadi kesalahan anak. Persoalan seorang ibu juga bukan alasan untuk menghukum anaknya.

Jika seseorang merasa pernah disakiti oleh orang tua si anak, ia tetap harus menyelesaikan persoalan tersebut secara langsung dan proporsional.

Anak tidak boleh dipaksa menjadi pihak yang membayar kesalahan orang dewasa.

Bahkan ketika hubungan keluarga sudah sangat buruk, tetap ada batas yang tidak boleh dilanggar. Jangan mengancam anak. Jangan mempermalukannya di depan publik. Jangan menyebarkan foto atau informasi pribadinya untuk menyerang orang tuanya. Jangan membuat akun palsu untuk mengejek. Jangan mengajak orang lain ikut membully.

Orang Tua Harus Melindungi
Ketika cyberbullying sudah terjadi, orang tua perlu bertindak. Simpan bukti berupa tangkapan layar, tautan, nama akun, dan waktu kejadian. Blokir akun pelaku dan gunakan fitur pelaporan pada platform.

Jika ancaman atau pelecehan semakin serius, pertimbangkan bantuan sekolah, konselor, lembaga perlindungan anak, atau jalur hukum.

Yang juga penting, dengarkan anak.

Jangan mengatakan, “Sudahlah, jangan dipikirkan.” Bagi anak, serangan di internet bisa terasa sangat nyata.

Katakan bahwa ia tidak bersalah. Yakinkan bahwa orang dewasa akan membantunya. Jangan membuat anak merasa harus menghadapi semuanya sendirian.

Konflik antara orang dewasa seharusnya diselesaikan oleh orang dewasa.

Jangan jadikan anak sebagai senjata untuk melukai orang yang kita benci.

Sebab ketika seorang anak dihina karena kesalahan ayah atau ibunya, yang sedang dihukum sebenarnya adalah seseorang yang bahkan tidak ikut dalam konflik tersebut.

Dan dalam Islam, ketidakadilan tetap menjadi ketidakadilan, siapa pun korbannya dan apa pun alasan kemarahannya.

 

Foto: Pexels

 

#Cyberbullying #Parenting #Anak #Islam #Keluarga #Perundungan #Muslim #Orangtua #Dakwah #Kemanusiaan