Ada orang yang terlihat baik-baik saja karena sudah terlalu terbiasa menyembunyikan kesedihan. Di depan orang lain ia tetap tersenyum, bekerja seperti biasa, membalas chat, bercanda, bahkan masih bisa memberi nasihat kepada orang lain. Namun ketika sendirian, ada begitu banyak hal yang sebenarnya belum selesai di dalam hati.

Kepedihan karena kehilangan, kecewa kepada seseorang, masalah keluarga, kegagalan, perasaan tidak dihargai, sampai luka dari masa lalu bisa terus disimpan tanpa pernah benar-benar dihadapi. Masalahnya, emosi yang dipendam tidak otomatis hilang hanya karena tidak dibicarakan.

Ia bisa menumpuk menjadi beban yang semakin berat. Pada satu titik, sesuatu yang terlihat kecil bisa menjadi pemicu ledakan emosi. Seseorang yang selama ini diam tiba-tiba marah besar. Menangis tanpa bisa berhenti. Menjauh dari orang lain. Kehilangan semangat. Atau merasa dirinya sudah tidak sanggup menjalani semuanya.

Karena itu, memendam kesedihan terus-menerus bukan tanda bahwa seseorang kuat. Ada perbedaan antara sabar dan mengabaikan luka.

Dalam Islam, sedih juga merupakan bagian dari manusia. Al-Qur'an bahkan memperlihatkan bagaimana Nabi Ya'qub menghadapi kesedihan yang sangat dalam setelah kehilangan Nabi Yusuf. Ia tidak berpura-pura bahwa dirinya baik-baik saja.

Nabi Ya'qub berkata, "Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku." (QS. Yusuf: 86).

Ayat ini memberikan pelajaran penting. Islam tidak mengajarkan manusia untuk mematikan emosi. Kesedihan boleh dirasakan. Air mata boleh jatuh. Hati boleh terluka.

Yang perlu dijaga adalah ke mana kesedihan itu dibawa.

Nabi Ya'qub membawa kesedihannya kepada Allah. Ini berbeda dengan membiarkan luka berputar terus di kepala sampai berubah menjadi kebencian, keputusasaan, atau kemarahan yang merusak diri sendiri dan orang lain.

Jangan merasa harus kuat setiap saat
Ada anggapan bahwa orang beriman harus selalu kuat dan tidak boleh mengeluh. Padahal, manusia tetap memiliki batas.

Al-Qur'an menyebut, "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (QS. Al-Baqarah: 286). Ayat ini juga mengajarkan doa agar Allah tidak memberikan beban yang tidak sanggup kita pikul.

Artinya, ketika hati terasa terlalu penuh, jangan terus memaksakan diri seolah semuanya baik-baik saja.

Mulailah dengan mengakui apa yang sedang dirasakan.

"Aku sedang kecewa."

"Aku masih terluka."

"Aku kehilangan seseorang."

"Aku marah."

"Aku sebenarnya sedang tidak baik-baik saja."

Mengakui perasaan bukan berarti menyerah. Justru itu langkah awal untuk memahami apa yang sedang terjadi di dalam diri.

Setelah itu, bawa perasaan tersebut kepada Allah melalui doa, salat, zikir, membaca Al-Qur'an, dan munajat. Tidak harus dengan kata-kata yang indah. Ceritakan saja apa adanya.

Allah juga mengingatkan bahwa "sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." Pesan itu bahkan diulang dalam QS. Asy-Syarh ayat 5-6.

Namun, tawakal tidak berarti berhenti mencari jalan keluar.

Kalau luka datang karena konflik dengan seseorang, selesaikan jika memungkinkan. Kalau ada kesalahan, minta maaf. Kalau ada orang yang menyakiti, buat batas yang sehat. Kalau masalahnya terlalu berat untuk dihadapi sendiri, bicaralah dengan orang yang dipercaya.

Mencari bantuan profesional juga tidak bertentangan dengan tawakal. Doa dan ikhtiar bisa berjalan bersama.

Ada kalanya hati membutuhkan waktu untuk pulih. Ada luka yang tidak selesai hanya dengan satu kali menangis atau satu malam berdoa.

Yang penting, jangan menjadikan hati sebagai gudang untuk menyimpan semua kepedihan.

Sebab manusia bisa terlihat tenang dari luar, sementara di dalam dirinya sedang terjadi perang yang tidak diketahui siapa pun.

Islam mengajarkan kita untuk membawa beban itu kepada Allah, mencari jalan keluar, dan tidak kehilangan harapan. Nabi Ya'qub menunjukkan bahwa kesedihan tidak menghilangkan iman. Ia tetap menangis, tetapi tetap berharap kepada Allah.

Jadi, kalau hari ini hatimu sedang penuh, kamu tidak harus berpura-pura kuat.

Berhenti sebentar.

Akui lukanya.

Ceritakan kepada Allah. Cari orang yang aman untuk diajak bicara. Dan perlahan, lepaskan apa yang memang sudah tidak bisa kamu kendalikan.

Karena hati juga punya batas. Jangan tunggu sampai semua yang kamu pendam berubah menjadi ledakan yang justru menghancurkan dirimu sendiri.

Allah mengingatkan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Tugas kita adalah terus berjalan sambil mencari pintu kemudahan itu.

 

Foto: Pexels

 

#Islam #Muslim #KesehatanMental #MentalHealth #SelfHealing #Hati #Kesedihan #Doa #AlQuran #RenunganIslam