Saat Hati Sedang Tidak Baik-Baik Saja, Apa Kata Islam?
Ada masa ketika seseorang tetap salat, membaca Al-Qur’an, berdoa, tetapi hatinya masih terasa berat. Pikiran terus dipenuhi kecemasan. Tidur terganggu. Tubuh terasa lelah meski tidak banyak beraktivitas. Bahkan, menjalani hari-hari sederhana pun terasa begitu sulit.
Dalam kondisi seperti itu, sebagian muslim mungkin justru merasa bersalah. “Bukankah saya sudah beribadah? Mengapa masih merasa seperti ini?”
Pertanyaan tersebut penting karena Islam tidak mengajarkan bahwa seorang muslim pasti terbebas dari persoalan mental hanya karena memiliki iman. Dr. Rania Awaad, psikiater dan Clinical Professor of Psychiatry and Behavioral Sciences di Stanford University, justru banyak mengkaji bagaimana kesehatan mental dapat dipahami dalam kerangka Islam. Ia memimpin Stanford Muslim Mental Health & Islamic Psychology Lab yang mengembangkan pendekatan untuk menjembatani psikologi modern dengan prinsip-prinsip Islam.
Muslim Juga Bisa Mengalami Masalah Mental
Ada anggapan yang masih sering muncul bahwa seorang muslim tidak seharusnya mengalami depresi, kecemasan, atau gangguan mental karena sudah memiliki iman.
Dr. Awaad mengkritik cara pandang tersebut. Dalam kajiannya tentang warisan Islam dan kesehatan mental, ia bersama peneliti lain menunjukkan bahwa tradisi intelektual Islam sejak masa awal telah mengenali persoalan kesehatan jiwa dan membahas berbagai aspek pikiran, tubuh, serta jiwa.
Artinya, mengalami masalah mental tidak otomatis berarti seseorang kurang iman.
Sama seperti tubuh yang bisa sakit, kondisi psikologis manusia juga bisa mengalami gangguan. Ada banyak faktor yang dapat berperan, mulai dari pengalaman hidup, tekanan sosial, kondisi biologis, trauma, lingkungan, hingga faktor psikologis.
Karena itu, kalimat seperti “kamu kurang dekat dengan Allah” tidak selalu menjadi jawaban yang tepat untuk seseorang yang sedang mengalami masalah mental.
Nasihat agama tetap bisa menjadi sumber kekuatan. Namun, seseorang juga membutuhkan pemahaman dan pertolongan yang sesuai dengan kondisi yang sedang dihadapinya.
Islam Tidak Memisahkan Iman dan Ikhtiar
Al-Qur’an memang mengajarkan bahwa mengingat Allah dapat memberikan ketenteraman kepada hati.
“...ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” QS Ar-Ra’d ayat 28.
Ayat ini menunjukkan pentingnya hubungan spiritual dalam kehidupan seorang muslim. Salat, doa, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan mendekatkan diri kepada Allah dapat menjadi bagian penting dari perjalanan seseorang menghadapi tekanan hidup.
Namun, ayat tersebut tidak berarti setiap gangguan mental dapat diselesaikan hanya dengan ibadah.
Islam juga mengenal ikhtiar untuk mencari pengobatan. Nabi Muhammad saw. bersabda, “Berobatlah, wahai hamba-hamba Allah,” sebagaimana diriwayatkan dalam Sunan Ibnu Majah.
Prinsip ini membuka ruang bagi seorang muslim untuk mencari bantuan ketika mengalami masalah kesehatan, termasuk kesehatan mental.
Mendatangi psikolog atau psikiater tidak berarti seseorang meninggalkan tawakal. Ikhtiar tersebut justru dapat menjadi bagian dari usaha mencari pertolongan yang Allah sediakan melalui ilmu dan manusia yang memiliki keahlian.
Rania Awaad Dorong Pendekatan yang Lebih Utuh
Menurut dr. Awaad, layanan kesehatan mental bagi muslim perlu memahami keyakinan dan budaya pasien. Ia menilai agama tidak seharusnya dihilangkan dari proses perawatan jika keyakinan tersebut memang menjadi bagian penting dalam kehidupan pasien.
Pendekatan tersebut mencoba mempertemukan perawatan psikologis modern dengan keyakinan, kebiasaan, dan nilai Islam.
Ini penting karena sebagian muslim bisa mengalami hambatan ketika mencari bantuan. Misalnya, gangguan psikologis dianggap sebagai tanda kurang iman. Ada pula kondisi tertentu yang langsung dikaitkan dengan gangguan jin atau hal mistis tanpa terlebih dahulu mendapatkan pemeriksaan profesional. Stanford mencatat bahwa stigma dan kurangnya layanan kesehatan mental yang sensitif terhadap agama dan budaya menjadi salah satu hambatan bagi sebagian komunitas muslim.
Padahal, pendekatan yang lebih sehat adalah melihat persoalan secara menyeluruh.
Seseorang bisa memperkuat ibadah sekaligus menjalani terapi. Bisa berdoa sekaligus berkonsultasi dengan psikolog. Bisa meminta nasihat kepada ustaz sekaligus mendapatkan pemeriksaan dari psikiater jika diperlukan.
Keduanya tidak harus dipertentangkan.
Jangan Cepat Menghakimi Orang yang Sedang Berjuang
Masalah mental sering kali tidak terlihat dari luar.
Seseorang mungkin masih bisa bekerja, kuliah, mengurus keluarga, tersenyum, bahkan aktif beribadah. Namun, di dalam dirinya, ia mungkin sedang menghadapi perjuangan yang tidak diketahui orang lain.
Karena itu, Islam mengajarkan pentingnya kasih sayang dan tidak mudah menghakimi.
Ketika seseorang mengatakan dirinya sedang tidak baik-baik saja, respons pertama tidak harus berupa ceramah panjang. Bisa dimulai dengan mendengarkan.
Jika masalahnya semakin berat atau mengganggu kehidupan sehari-hari, mencari bantuan profesional juga merupakan pilihan yang masuk akal.
Bagi seorang muslim, menjaga kesehatan mental bukan berarti menjauh dari agama. Justru, pendekatan yang lebih utuh dapat menempatkan iman, dukungan sosial, ilmu psikologi, dan pengobatan pada tempatnya masing-masing.
Islam memberi ruang bagi manusia untuk mengakui bahwa dirinya sedang lelah.
Dan ketika hati sedang tidak baik-baik saja, meminta pertolongan bukan tanda kegagalan sebagai seorang muslim. Itu bisa menjadi bagian dari ikhtiar untuk kembali menjalani hidup dengan lebih sehat.
Foto: Pexels
#MentalHealth #KesehatanMental #Islam #Muslim #PsikologiIslam #RaniaAwaad #KesehatanJiwa #IslamicPsychology #KesehatanMuslim #InspirasiIslam