Dari “Ngon Kotor” Menjadi Pusat Inspirasi: Hikmah 100 Tahun Gontor
Angka 100 selalunya menjadi "angka cantik" yang seringkali disebut sebagai kadar tertinggi suatu kandungan, misalnya 100 persen. Kali ini, nomor 100 dalam seratus tahun perjalanan Pondok Modern Darussalam Gontor bukan sekadar angka yang dirayakan dengan kemeriahan. Di balik usia panjang itu terdapat sejarah perjuangan, keikhlasan, pengorbanan, pendidikan, dan wakaf yang terus mengalir manfaatnya. Gontor menjadi contoh bahwa sebuah lembaga pendidikan dapat tumbuh besar bukan hanya karena kekuatan materi, tetapi karena visi, disiplin, keikhlasan, dan kepercayaan kepada Allah SWT.
Dalam sambutan pada peringatan 100 tahun Gontor, pimpinan pondok tersebut, KH Hasan Abdullah Sahal menyampaikan bahwa pondok tersebut dahulu memiliki kondisi yang sangat sederhana. Bahkan, secara humor nama Gontor pernah dikaitkan dengan ungkapan “ngon kotor”, sebuah tempat yang kala itu masih penuh keterbatasan dan berbagai persoalan. Namun, perjalanan sejarah membuktikan bahwa tempat yang dahulu dipandang sederhana itu kemudian berkembang menjadi “ngon inspirator”, tempat lahirnya gagasan, ilmu, karakter, dan pengabdian.
Di sinilah letak pelajaran pertama: manusia tidak boleh menilai masa depan hanya dari keadaan hari ini. Banyak sesuatu yang tampak kecil pada awalnya, tetapi menjadi besar karena dirawat dengan kesungguhan. Sebuah lembaga pendidikan tidak langsung menjadi kuat dalam satu malam. Ia dibangun melalui proses panjang, kesabaran, dan pengorbanan banyak generasi.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an bahwa Dia tidak akan menyia-nyiakan amal orang-orang yang berbuat baik. Ayat ini menjadi penguat bahwa setiap kebaikan, sekecil apa pun, memiliki nilai di sisi Allah. Para pendiri Gontor mungkin tidak langsung melihat seluruh hasil perjuangan mereka, tetapi keikhlasan mereka telah menjadi fondasi bagi perjalanan panjang pondok tersebut.
Pada tahun 1958, setelah melewati 32 tahun perjalanan, Pondok Modern Gontor diwakafkan kepada umat Islam. Keputusan tersebut merupakan bentuk pengorbanan yang sangat besar. Para pendiri—K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainuddin Fanani, dan K.H. Imam Zarkasyi—tidak hanya mewakafkan tanah atau bangunan. Mereka mewakafkan ide, nilai, sistem, lembaga, cinta, dan seluruh visi pendidikan untuk umat.
Wakaf seperti ini memiliki dimensi spiritual yang sangat dalam. Wakaf bukan sekadar memindahkan kepemilikan, tetapi mengubah orientasi kepemilikan menjadi pengabdian. Sesuatu yang semula dapat dianggap sebagai milik pribadi diserahkan untuk kemaslahatan umat. Inilah salah satu bentuk amal jariyah yang pahalanya terus mengalir selama manfaatnya tetap dirasakan.
Di dalam Islam, keikhlasan merupakan ruh dari setiap amal. Amal yang besar tetapi tidak ikhlas bisa kehilangan nilainya, sedangkan amal sederhana yang dilakukan dengan ikhlas dapat menjadi sangat mulia. Para pendiri Gontor mengajarkan bahwa lembaga pendidikan yang kuat harus dibangun dengan niat yang lebih besar daripada kepentingan pribadi.
Pendidikan Gontor tidak diarahkan hanya untuk mengisi otak dengan pengetahuan. Pendidikan juga dimaksudkan untuk membentuk kepribadian, identitas, keberanian, tanggung jawab, dan kesiapan mengabdi. Karena itu, semboyan yang disampaikan dalam pidato tersebut sangat kuat: “Be the best, do the best, have the best.” Dalam konteks pendidikan, seseorang harus menjadi pribadi terbaik, mengerjakan kebaikan sebaik mungkin, lalu mendapatkan hasil terbaik dari proses tersebut.
Namun, konsep “terbaik” dalam Islam tidak boleh dipisahkan dari akhlak dan ketakwaan. Menjadi terbaik bukan berarti mengalahkan orang lain dengan kesombongan. Menjadi terbaik berarti mengoptimalkan kemampuan yang Allah berikan untuk mendatangkan manfaat. Ilmu yang tinggi harus melahirkan kerendahan hati. Jabatan harus melahirkan pelayanan. Kekayaan harus melahirkan kepedulian. Kecerdasan harus melahirkan kebijaksanaan.
Pendidikan yang baik tidak hanya mengajarkan apa yang harus diketahui, tetapi juga bagaimana seseorang harus hidup. Seorang santri tidak cukup hanya memahami teks agama. Ia harus mampu menjadikan ilmu itu sebagai akhlak, sikap, dan pengabdian. Karena itu, lembaga pendidikan Islam memiliki tugas besar: melahirkan manusia yang memiliki pengetahuan sekaligus kepribadian.
Salah satu pesan penting dalam sambutan tersebut adalah ajakan untuk tidak hanya mengingat sejarah, tetapi juga membangun sejarah. Ungkapan “Jas Merah”—jangan sekali-kali melupakan sejarah—merupakan pengingat agar generasi hari ini tidak memutus hubungan dengan perjuangan masa lalu. Namun, mengingat sejarah saja belum cukup. Sejarah harus menjadi sumber inspirasi untuk menciptakan masa depan.
Mereka yang hanya mengenang masa lalu tanpa melakukan apa-apa akan menjadi penonton sejarah. Sebaliknya, mereka yang belajar dari masa lalu lalu membangun karya akan menjadi pelaku sejarah. Inilah tugas generasi muda: tidak sekadar bertanya apa yang telah diberikan bangsa kepada mereka, tetapi juga apa yang dapat mereka berikan kepada bangsa dan umat.
Dalam konteks ini, alumni sebuah lembaga pendidikan bukan hanya membawa nama almamater. Mereka membawa nilai, prinsip, dan tanggung jawab moral. Alumni Gontor yang berada di lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif, dunia pendidikan, dakwah, ekonomi, dan berbagai bidang lain diharapkan tetap membawa misi membina umat dan bangsa.
Pendidikan Islam tidak seharusnya melahirkan kelompok yang mudah memusuhi perbedaan. Sebaliknya, pendidikan harus melatih seseorang untuk memahami keragaman dan membangun kerja sama. Dalam sambutan tersebut, disebutkan bahwa anak-anak dari latar belakang Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah dapat belajar bersama di Gontor, lalu kembali berkontribusi di lingkungan masing-masing.
Bahkan, perbedaan organisasi dan latar belakang tidak menghalangi hubungan kekeluargaan. Ada keluarga yang memiliki latar belakang NU dan Muhammadiyah, tetapi tetap hidup dalam suasana harmonis. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan tidak selalu harus menjadi sumber pertentangan. Perbedaan dapat menjadi kekayaan jika disikapi dengan ilmu, adab, dan kedewasaan.
Islam mengajarkan persaudaraan yang melampaui batas kelompok. Perbedaan dalam persoalan cabang tidak boleh menghapus persamaan dalam akidah dan tujuan besar. Umat Islam perlu belajar membedakan antara prinsip yang harus dipertahankan dan persoalan yang dapat disikapi dengan kelapangan hati.
Pesan lain yang sangat penting adalah keyakinan bahwa jika Allah telah membuka jalan, tidak ada seorang pun yang mampu menutupnya. Begitu pula jika Allah mencintai seseorang, tidak ada manusia yang mampu menghilangkan kemuliaan yang Allah berikan kepadanya. Keyakinan ini bukan alasan untuk bermalas-malasan, melainkan dorongan agar manusia tetap berusaha dengan ikhlas dan tidak terlalu bergantung pada penilaian manusia.
Sering kali manusia sibuk mencari pengakuan. Ada yang mencari nama, mencari jabatan, mencari kekayaan, bahkan mencari muka. Padahal kemuliaan sejati tidak ditentukan oleh pujian manusia. Kemuliaan yang paling penting adalah kemuliaan di sisi Allah.
Allah SWT berfirman bahwa orang yang paling mulia di sisi-Nya adalah orang yang paling bertakwa. Bukan orang yang paling kaya, paling terkenal, paling tinggi jabatannya, atau paling banyak pengikutnya. Ukuran kemuliaan manusia di hadapan Allah adalah ketakwaan, kejujuran, dan manfaat yang ia berikan.
Dalam sambutan tersebut juga disampaikan sebuah prinsip yang sangat mengagumkan: apa yang dimakan, dipakai, ditempati, dan dinikmati oleh pimpinan pondok tidak boleh melebihi apa yang diterima oleh para santri. Bahkan, jika ada perbedaan yang tidak wajar, masyarakat diberi ruang untuk mengkritik.
Ini adalah bentuk kepemimpinan yang sangat dekat dengan nilai zuhud dan keadilan. Seorang pemimpin tidak boleh hidup terlalu jauh dari rakyat yang dipimpinnya. Ia harus memahami kesulitan mereka, merasakan kebutuhan mereka, dan menempatkan dirinya sebagai pelayan, bukan penguasa yang harus dilayani.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Karena itu, kepemimpinan bukanlah fasilitas untuk memperkaya diri. Jabatan adalah amanah yang akan dipertanyakan di hadapan Allah. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya.
Pendidikan yang baik juga mengajarkan cara menghadapi perubahan zaman. Dalam pidato tersebut, disampaikan konsep “STIR”, yaitu sabar, tawakal, ikhlas, dan rida. Keempat nilai ini dapat menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan.
Sabar berarti mampu bertahan dalam proses tanpa mudah menyerah. Tawakal berarti menyerahkan hasil kepada Allah setelah melakukan ikhtiar. Ikhlas berarti membersihkan niat dari keinginan dipuji manusia. Rida berarti menerima ketetapan Allah dengan hati yang lapang, tanpa berhenti berusaha memperbaiki keadaan.
Kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada masa cepat dan ada masa lambat. Ada masa penuh keberhasilan dan ada masa penuh ujian. Karena itu, manusia harus mampu menyesuaikan langkah dengan keadaan. Jangan terburu-buru ketika harus bersabar, dan jangan lambat ketika ada kewajiban yang harus segera dilakukan.
Setiap masa memiliki tokohnya. Setiap tokoh memiliki masanya. Setiap masa dan tokoh memiliki masalahnya. Namun, setiap masalah juga harus dicari solusinya. Ungkapan ini mengajarkan sikap optimistis dan realistis. Tidak ada zaman tanpa masalah, tetapi manusia diberi akal, ilmu, dan iman untuk mencari jalan keluar.
Seratus tahun Gontor bukan hanya perayaan, melainkan pengingat. Pengingat tentang pentingnya wakaf, pendidikan, disiplin, sejarah, persatuan, dan pengabdian. Perjalanan panjang itu menunjukkan bahwa lembaga yang dibangun dengan nilai dapat bertahan melewati perubahan zaman.
Peringatan usia satu abad juga menjadi kesempatan untuk bersyukur. Bersyukur bukan hanya mengucapkan kalimat di lisan, tetapi menggunakan nikmat Allah untuk kebaikan. Jika Allah memberikan ilmu, ilmu itu harus diajarkan. Jika Allah memberikan harta, harta itu harus digunakan untuk kemaslahatan. Jika Allah memberikan jabatan, jabatan itu harus digunakan untuk melayani.
Al-Qur’an mengingatkan, “Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian.” Syukur harus dibuktikan dalam tindakan. Lembaga pendidikan yang terus melayani umat adalah bentuk syukur. Alumni yang mengabdi kepada bangsa adalah bentuk syukur. Santri yang menjaga akhlaknya adalah bentuk syukur.
Pada akhirnya, kisah Gontor mengajarkan bahwa kemajuan tidak hanya dibangun dengan gedung yang besar. Kemajuan dibangun oleh manusia yang memiliki hati besar, visi panjang, dan kesediaan untuk berkorban. Bangunan dapat berdiri karena semen dan batu, tetapi peradaban berdiri karena iman, ilmu, akhlak, dan keikhlasan.
Mudah-mudahan nilai-nilai perjuangan para pendiri Gontor terus hidup dalam setiap generasi. Semoga pendidikan Islam terus melahirkan insan yang berilmu, berakhlak, mandiri, toleran, dan siap mengabdi. Semoga Indonesia memiliki lebih banyak lembaga pendidikan yang tidak hanya mencetak orang pintar, tetapi juga manusia yang jujur dan bertanggung jawab.
Sebab ilmu tanpa akhlak dapat menjadi alat kesombongan. Kekuasaan tanpa amanah dapat menjadi sumber kezaliman. Kekayaan tanpa kepedulian dapat menjadi sebab kehancuran. Namun, ilmu yang disertai iman dan akhlak akan menjadi cahaya yang menerangi umat. Selamat hari lahir yang ke-100 buat Pondok Modern Darussalam Gontor. Dirgahayu dan sukses selalu. Amin