Kembali ke Home

Bukan Cuma Anak, Ternyata Orang Tua Juga Bisa Durhaka! | Udjae | Damai Indonesiaku

Ceramah dan Tausiyah 05 Aug 2026 Oleh Subhanhariadi Putra

Deskripsi Video

Istilah durhaka dalam diskursus hubungan kekeluargaan hampir selalu dialamatkan secara sepihak dari posisi anak kepada orang tua. Pandangan umum yang terpatri secara mendalam di tengah masyarakat menempatkan sosok ayah dan ibu dalam posisi yang seolah tidak pernah luput dari kebenaran. Kondisi ini kerap membuat konsep relasi antaranggota keluarga menjadi timpang. Banyak yang tidak menyadari bahwa tanggung jawab emosional, edukatif, serta spiritual sebuah keluarga berjalan secara dua arah. Fenomena pengabaian proses pembentukan karakter, penelantaran hak tumbuh kembang anak, hingga tiadanya bimbingan ajaran kebaikan sejak dini sejatinya merupakan manifestasi dari bentuk kelalaian yang teramat nyata dari pihak orang tua. Memahami pola pengasuhan dalam lingkup keluarga memerlukan kearifan yang komprehensif dan tidak dogmatis. Lingkungan domestik yang sehat selalu diawali dari kejelasan ikhtiar orang tua dalam membentengi dirinya sendiri terlebih dahulu dari kekeliruan moral sebelum melangkah ke tahap membimbing anggota keluarganya. Prinsip pembentukan karakter yang kokoh ini bertumpu pada kesadaran penuh bahwa sosok anak adalah lembaran putih yang memantulkan setiap pola interaksi, ucapan, serta perlakuan yang diterimanya sehari-hari. Ketika orang tua bertindak tanpa perhitungan dan enggan memberikan nutrisi jiwa berupa keteladanan yang santun, maka benih-benih keretakan pola hubungan keluarga sebenarnya sedang ditanam oleh orang tua itu sendiri. Sebuah rekam jejak sejarah yang dikutipkan dari siaran Damai Indonesiaku TV One memberikan sudut pandang yang amat berharga terkait dinamika ini. Dikisahkan pada masa pemerintahan Khalifah Sayyidina Umar ibn al-Khattab radhiallahu anhu, seorang ayah mendatangi sang khalifah untuk mengadukan kelakuan anaknya yang dianggap membangkang. Namun, setelah sang anak diberi kesempatan berbicara, terungkaplah sebuah fakta bahwa sang ayah tidak pernah memberikan nama yang baik, tidak pernah mencarikannya figur ibu yang santun, dan sama sekali tidak pernah mengajarkan satu ayat pun tentang kebaikan hidup kepadanya. Mendengar pengakuan jujur tersebut, Khalifah Umar menatap sang ayah dan menegaskan bahwa sang ayah telah mendurhakai anaknya terlebih dahulu sebelum anak itu mendurhakainya. Dalam khazanah literatur keislaman yang luas, terdapat sebuah rahasia hikmah yang sangat unik dan jarang dibahas mengenai hubungan antara konsep pengasuhan anak dengan kelancaran takdir rezeki seseorang. Para ulama terdahulu menggarisbawahi bahwa perlakuan penuh kasih sayang serta keadilan emosional yang dicurahkan orang tua kepada anak-anaknya bertindak sebagai pemantik terbukanya pintu-pintu kemudahan hidup dari jalan yang tidak disangka-sangka. Sebaliknya, sikap semena-mena, sumpah serapah yang terlontar saat emosi, serta kebiasaan menyalahkan anak atas kemalangan hidup sering kali menjadi penghalang terwujudnya kedamaian di dalam rumah tangga. Ditinjau dari perspektif ajaran Islam, terdapat sebuah doa perlindungan dalam bahasa Arab yang sangat dianjurkan untuk senantiasa dipanjatkan oleh setiap hamba agar dikaruniai keturunan yang menyejukkan hati serta terhindar dari kelalaian pola pengasuhan. Doa tersebut termaktub indah dalam aksara Arab sebagai berikut:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Pesan spiritual di balik doa tersebut menegaskan bahwa predikat pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa diawali dari keberhasilan membangun keharmonisan dan kesejukan di dalam rumah tangga sendiri. Memimpin keluarga membutuhkan kerendahan hati untuk terus belajar dan mengoreksi diri secara berkala. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki pola komunikasi yang sempat rusak atau merajut kembali tali kasih sayang yang sempat merenggang. Dengan niat yang tulus serta ikhtiar yang konsisten, rumah tangga dapat bertransformasi menjadi tempat berteduh yang aman, damai, serta melahirkan generasi penerus yang berakhlak mulia dan berwawasan luas. Banyak orang tua menuntut kepatuhan mutlak dari anak tanpa sadar bahwa pola pengasuhan yang mereka terapkan justru menanam benih kekecewaan di hati sang anak. Penelantaran bimbingan karakter dan pengabaian hak-hak emosional anak merupakan bentuk kelalaian besar yang sering kali luput dari evaluasi diri. Mari kita benahi cara kita membimbing generasi penerus dengan mengedepankan keteladanan yang santun, kasih sayang yang utuh, serta komunikasi yang menenangkan demi mewujudkan kedamaian di dalam rumah tangga.

#PolaPengasuhan #EdukasiKeluarga #KarakterAnak #IntegritasDiri #KeluargaHarmonis #HikmahKehidupan #RefleksiDiri #PendidikanKarakter #BimbinganKeluarga #GenerasiMulia

Komentar (0)

Jadilah yang pertama berkomentar.