Buya Yahya Ungkap Sejarah Penetapan Kalender Hijriah, Awal Mula Tahun Baru Islam!
Setiap tanggal 1 Muharram, umat Islam merayakan Tahun Baru Islam. Namun, tahukah Anda bahwa kalender Hijriah tidak digunakan sejak zaman Rasulullah SAW? Sebagaimana dikutip dari penjelasan Buya Yahya, penetapan tahun Hijriah baru terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Asal usul tahun baru Islam 1 Muharram, Buya Yahya ungkap sejarah penetapan kalender Hijriah. Ini adalah keputusan yang sangat bijaksana dan memiliki makna mendalam.
Pada masa awal Islam, umat masih menggunakan sistem penanggalan yang sama dengan masyarakat non-Muslim. Khalifah Umar bin Khattab merasa perlu menghadirkan identitas tersendiri bagi umat Islam. Beliau menginginkan penanggalan yang khas, yang membedakan umat Islam dari yang lain. Maka, beliau mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah menentukan sistem tahun dan kalender baru. “Tujuannya membuat penanggalan baru, hari baru dan tahun baru itu untuk berbeda dengan orang-orang yang belum Islam,” jelas Buya Yahya.
Dalam musyawarah tersebut, para sahabat mengemukakan berbagai usulan. Ada yang mengusulkan bulan Rabiul Awal karena berkaitan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sebagian lainnya mengusulkan Ramadhan atau Syawal. Perdebatan berlangsung alot hingga akhirnya mereka mencapai kesepakatan: bulan Muharram. Mengapa Muharram? Karena pada saat itu, banyak kaum muslim berkumpul di Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Setelah rangkaian ibadah selesai, mereka kembali ke daerah masing-masing pada bulan Muharram.
Buya Yahya menjelaskan bahwa kondisi pasca-haji ini sangat strategis untuk menyebarkan informasi. Para jemaah haji dapat menjadi penyampai kabar kepada masyarakat di berbagai wilayah tanpa memerlukan sosialisasi yang panjang. Dengan cara itu, berita tentang dimulainya tahun Hijriah pada bulan Muharram dapat tersebar luas dengan cepat ke berbagai penjuru dunia Islam. Ini adalah strategi komunikasi yang brilian pada zamannya.
Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.” (HR. Tirmidzi). Penetapan tahun Hijriah tidak hanya soal pergantian angka, tetapi juga momentum untuk introspeksi diri. Umar bin Khattab memilih tahun Hijrah Nabi sebagai patokan awal tahun karena peristiwa hijrah adalah titik balik peradaban Islam. Dengan berhijrah, umat Islam memperoleh kekuatan dan membangun negara Madinah.
Fenomena yang sering terjadi adalah umat Islam merayakan tahun baru dengan pesta kembang api, konvoi motor, dan hura-hura, tetapi lupa dengan esensi hijrah itu sendiri. Mereka tidak melakukan muhasabah, tidak berpuasa, dan tidak berusaha meninggalkan kebiasaan buruk. Tahun baru Islam seharusnya menjadi momentum untuk “hijrah”: meninggalkan kemaksiatan menuju ketaatan, meninggalkan kemalasan menuju produktivitas, dan meninggalkan kebodohan menuju ilmu pengetahuan.
Umar bin Khattab memilih tahun Hijrah sebagai awal kalender, bukan tahun kelahiran Nabi atau tahun wafatnya Nabi. Ini adalah pelajaran bahwa yang terpenting bukanlah peristiwa pasif (kelahiran/kematian), tetapi peristiwa aktif (perjuangan). Hijrah adalah simbol pengorbanan, perjuangan, dan penguatan identitas. Maka, di tahun baru ini, marilah kita berhijrah: tinggalkan gaya hidup konsumtif, perbanyak sedekah, tingkatkan ibadah, dan perbaiki hubungan dengan sesama.
Kesimpulannya, 1 Muharram bukan sekadar hari libur, tetapi hari bersejarah yang mengingatkan kita pada kebijaksanaan Umar bin Khattab dan para sahabat. Selamat Tahun Baru Islam 1448 H. Semoga kita termasuk orang-orang yang cerdas: yang selalu menghisab diri dan beramal untuk akhirat. “Tujuannya membuat penanggalan baru untuk berbeda dengan orang-orang yang belum Islam.” Wallahu a'lam.
#TahunBaruIslam #1Muharram #1448H #SejarahHijriah #BuyaYahya #UmarBinKhattab #KalenderHijriah #MuhasabahDiri #Hijrah #IdentitasIslam