Dari S3 Oxford ke Tengah Sawah Sleman, Kisah Aishah Prastowo Membangun SMA Berbasis STEAM
Pernah nggak sih kamu membayangkan, seseorang yang sudah memegang gelar Doktor (S3) dari University of Oxford—salah satu kampus nomor satu di dunia—justru memilih pulang ke Indonesia untuk menjadi guru SMA? Di tengah ramainya perbincangan publik soal kontribusi para alumni beasiswa negara yang sering dibanding-bandingkan, kisah Dr. Aishah Prastowo hadir membawa angin segar yang amat menyejukkan.
Langkah yang diambil Aishah mungkin terasa tak biasa bagi sebagian besar orang. Namun, lewat keputusannya mengabdi di pelosok Yogyakarta, kita belajar bahwa kontribusi nyata untuk bangsa tidak selalu harus diukur dari seberapa mentereng nama lembaga tempat kita bekerja.
Rekam Jejak Akademis Cemerlang dan Riset Mikrofluida
Kecintaan Aishah pada dunia sains memang sudah tumbuh sejak kecil dari lingkungan keluarganya. Setelah berhasil meraih gelar S1 Teknik Fisika di UGM pada usia yang sangat muda yaitu 16 tahun, ia melanjutkan S2 di Université Paris Descartes, Prancis, sebelum akhirnya menembus Beasiswa LPDP angkatan awal (PK-6) untuk program S3 Engineering Science di Oxford University.
Di Oxford, Aishah menekuni riset mutakhir di bidang mikrofluida multifase. Riset ini berfokus pada manipulasi cairan dalam skala nanoliter hingga mikroliter yang sangat efisien untuk dunia medis.
- Efisiensi Uji Obat: Menghilangkan kebutuhan alat laboratorium raksasa yang mahal.
- Alat Diagnostik Murah: Berpotensi ciptakan alat tes penyakit murah untuk wilayah pelosok Indonesia.
- Publikasi Internasional: Hasil risetnya terbit di jurnal bereputasi Q1 dan dirujuk oleh peneliti dunia.
Secara teknis, Aishah punya seluruh syarat untuk berkarier mulus sebagai peneliti papan atas di luar negeri. Namun, panggilan untuk memberi dampak langsung pada pendidikan Indonesia ternyata jauh lebih kuat.
Mendirikan Praxis High School di Tengah Sawah Sleman
Setelah menyelesaikan studinya dan sempat beradaptasi dengan masa pandemi Covid-19, perjalanan hidup membawa Aishah pada takdir yang baru. Pada tahun 2024, ia resmi merintis sekaligus memimpin Praxis High School, sebuah SMA alternatif berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics) yang berlokasi di Desa Bimomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta.
Sekolah ini unik karena berdiri asri di tengah kawasan persawahan, namun memadukan kurikulum berstandar internasional. Aishah menyiapkan para siswanya untuk siap menghadapi gelombang disrupsi kecerdasan buatan (AI) dan otomasi industri. Hasilnya pun tidak main-main meski sekolah ini baru berjalan:
- Juara Robotika Internasional: Para siswa berhasil meraih penghargaan Judges Choice Award pada ajang FIRST Tech Challenge di Vietnam.
- Penulis Jurnal Ilmiah: Salah satu siswanya berhasil menjadi co-author makalah riset tanah di jurnal ilmiah bereputasi.
Lewat kombinasi disiplin riset dan pengajaran yang humanis, Aishah berhasil membuktikan bahwa anak SMA di daerah pun mampu mencetak prestasi tingkat global.
Redefinisi Kontribusi dan Love Language Baru dalam Mengajar
Bagi Aishah, berpindah dari laboratorium canggih ke ruang kelas sekolah bukanlah sebuah penurunan karier. Ia memandangnya sebagai redefinisi atas cara menyalurkan ilmu. Jika dulu fokusnya adalah menghasilkan temuan teknis di atas kertas riset, kini fokus utamanya adalah membentuk manusia-manusia unggul yang akan memimpin masa depan.
Ia berpesan kepada generasi muda dan sesama pendidik agar tidak perlu minder jika bentuk kontribusi yang dilakukan saat ini terasa belum raksasa. Dampak-dampak kecil yang langsung dirasakan oleh masyarakat sekitar justru jauh lebih bermakna dan berdaya guna (migunani tumraping liyan).
Foto: LPDP
#AishahPrastowo #AlumniLPDP #BeasiswaLPDP #OxfordToJogja #PraxisHighSchool #PendidikanKarakter #InspirasiMilenial #GuruSMA #STEAMIndonesia #KontribusiUntukNegeri