Petaka Akhir Hayat Si Penggila Harta
Pernahkah kamu membayangkan bagaimana momen-momen terakhir manusia ketika ajalnya makin dekat? Bagi orang beriman, detik-detik sakaratul maut adalah waktu paling krusial untuk menguapkan kata-kata kebaikan dan melafalkan kalimat tauhid. Namun, bagi orang yang hatinya sudah dibutakan oleh materi, momen tersebut justru bisa menjadi awal dari penyesalan yang teramat panjang.
Harta memang kebutuhan hidup di dunia. Namun, ketika materi dikejar secara berlebihan hingga melalaikan tujuan akhirat, ia akan berubah menjadi ujian terbesar yang berisiko menyeret pemiliknya pada kondisi akhir hidup yang buruk (su'ul khotimah).
Pelajaran Berharga dari Akhir Hidup Penggila Harta
Dalam kitab Al-Jawabul Kafi, Al-Imam Ibnul Qayyim menceritakan riwayat nyata tentang bagaimana kecintaan berlebihan pada materi sanggup menguasai batin seseorang hingga napas terakhirnya. Ketika dikelilingi kerabat yang mencoba membimbingnya membaca kalimat thoyyibah menjelang ajal, lisannya bukan mengucapkan zikir, melainkan sibuk meracau tentang harga barang dagangan dan transaksi bisnis.
Kisah serupa dialami seseorang yang dibimbing mengucapkan Laa Ilaha Illallah menjelang wafat. Alih-alih menyebut nama Allah Swt., orang tersebut malah memberikan instruksi perbaikan rumah dan pengelolaan kebun milik kekayaannya.
Kisah-kisah ini menjadi peringatan keras bagi kita. Ketika hati kita dibiarkan kosong dari keimanan dan hanya diisi oleh obsesi duniawi, kenikmatan materi akan terus menari-nari di pelupuk mata sampai saat kematian menjemput.
Fitnah Terbesar Umat dan Bahaya Sifat Tamak
Rasulullah saw. telah mengingatkan jauh-jauh hari bahwa ujian utama yang paling rentan melanda umatnya adalah godaan harta. Uniknya, sifat tamak terhadap materi dan keinginan untuk hidup lama justru kerap makin menguat seiring bertambahnya usia seseorang.
Berikut adalah dua hal utama yang sering membuat manusia terlena menurut petunjuk Rasulullah saw.:
- Cinta Harta yang Tak Ada Habisnya: Keinginan untuk terus menumpuk kekayaan tanpa memikirkan asal-usul halal dan haram.
- Keinginan Hidup Panjang Tanpa Bekal: Keinginan untuk terus menikmati dunia seolah-olah diri kita tidak akan pernah kembali kepada Sang Pencipta.
Ketika obsesi dunia menguasai pikiran, manusia rentan lupa bahwa seluruh harta yang ditinggalkan di dunia pada akhirnya hanya akan menjadi milik ahli waris, bukan bekal pribadi untuk akhirat.
Menjadi Mukmin yang Cerdas Mengelola Harta
Seorang mukmin yang cerdas tentu tidak akan menolak rezeki atau memusuhi harta dunia. Sebaliknya, ia akan menjadikan kekayaan sebagai sarana untuk mengumpulkan bekal akhirat yang abadi.
Rasulullah saw. mengingatkan bahwa harta sejati yang benar-benar milik kita adalah apa yang telah kita infakkan dan sedekahkan untuk kebaikan. Sementara itu, harta yang kita simpan dan tumpuk sampai akhir hayat hanya akan menjadi warisan bagi orang lain.
Mari kita terus melatih diri agar tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Luangkan waktu untuk menyucikan jiwa (tazkiyatun nafs), perbanyak amal salih, dan manfaatkan setiap rezeki yang kita miliki sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Foto: Pexels
#PeringatanKematian #SuulKhotimah #BahayaTamak #FitnahHarta #TazkiyatunNafs #HadisNabi #MawasDiri #NasihatIslami #BekalAkhirat #EdukasiIslam