Kiat Membentengi Anak dari 4F yang Terlalu Duniawi
Anak-anak hari ini tumbuh di tengah dunia yang menawarkan kesenangan hampir tanpa jeda. Apa yang diinginkan bisa muncul di layar dalam hitungan detik.
Makanan bisa dipesan kapan saja, tren pakaian berganti cepat, hiburan tidak pernah habis, dan popularitas seolah menjadi ukuran keberhasilan.
Di sinilah orang tua perlu waspada terhadap apa yang bisa disebut sebagai 4F: Food, Fashion, Fun, dan Fame—makanan, penampilan, kesenangan, dan popularitas.
Keempatnya tentu bukan sesuatu yang otomatis buruk. Anak boleh menikmati makanan enak, berpakaian bagus, bermain, dan memperoleh apresiasi.
Persoalannya muncul ketika 4F berubah menjadi pusat kehidupan. Anak mulai merasa harus selalu mendapatkan apa yang diinginkan, tampil paling keren, tidak boleh ketinggalan kesenangan, dan membutuhkan pengakuan orang lain agar merasa berharga.
Pada titik itu, orang tua perlu mengajarkan satu hal penting: anak boleh mengenal dunia, tetapi jangan sampai dunia menguasai hatinya.
Benteng pertama bukan sekadar larangan, melainkan nilai yang ditanamkan sejak rumah.
Dalam urusan Food, misalnya, orang tua bisa mengajarkan kesederhanaan dan kemampuan menahan keinginan.
Tidak setiap makanan yang sedang tren harus dibeli. Tidak setiap permintaan harus dipenuhi. Sesekali, ajak anak bertanya, “Ini benar-benar kita butuhkan atau hanya kita inginkan?”
Pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi latihan pengendalian diri. Anak belajar bahwa keinginan tidak selalu harus segera dipenuhi.
Begitu pula dengan Fashion. Anak tentu ingin terlihat menarik dan mengikuti perkembangan zaman. Itu manusiawi. Namun, jangan sampai pakaian, merek, sepatu, atau barang mahal menjadi sumber harga dirinya.
Karena itu, orang tua perlu lebih sering memuji karakter daripada penampilan. Jangan hanya mengatakan, “Kamu keren.” Sesekali katakan, “Ayah bangga karena kamu jujur,” atau “Ibu senang melihat kamu mau membantu teman.”
Dengan cara itu, anak belajar bahwa dirinya berharga bukan karena apa yang dikenakan, melainkan karena akhlak dan kebaikan yang ia miliki.
Kemudian ada Fun. Bermain dan menikmati hiburan tentu dibutuhkan anak. Namun, kesenangan tidak boleh menjadi tujuan utama kehidupan.
Anak perlu belajar bahwa ada waktunya bermain, tetapi ada pula waktunya belajar, beribadah, membantu orang tua, dan menyelesaikan tanggung jawab.
Justru kemampuan menunda kesenangan merupakan bekal penting bagi masa depannya.
Yang tak kalah perlu diperhatikan adalah Fame. Di era media sosial, anak sangat mudah mengenal budaya popularitas. Jumlah pengikut, tanda suka, komentar, hingga perhatian orang lain dapat membuat anak mengukur harga dirinya dari respons dunia maya.
Di sinilah orang tua harus mengembalikan ukuran keberhasilan kepada nilai yang lebih kokoh.
Ustaz Adi Hidayat menekankan pentingnya orientasi kepada cinta Allah. UAH mengatakan, “Kalau dia mencoba untuk jadi Muhibbin, untuk mendapatkan cinta Allah, diabaikan aja (perhatian manusia).”
Kutipan tersebut mengingatkan bahwa perhatian manusia tidak seharusnya menjadi tujuan utama ketika seseorang sedang berusaha mendapatkan cinta Allah.
Pesan itu sangat relevan untuk pendidikan anak. Tidak semua yang viral harus diikuti. Tidak semua yang menarik perhatian harus ditiru. Dan tidak semua yang menyenangkan akan membawa kebaikan.
Orang tua juga tidak cukup hanya membuat aturan. Anak membutuhkan teladan.
Jika ingin anak tidak berlebihan mengejar barang, orang tua perlu menunjukkan kesederhanaan.
Jika ingin anak tidak kecanduan gawai, orang tua juga harus bersedia meletakkan ponselnya.
Jika ingin anak mencintai akhirat, anak perlu melihat bahwa kehidupan orang tuanya pun tidak hanya berputar pada urusan dunia.
Pada akhirnya, membentengi anak dari 4F bukan berarti menjauhkan mereka dari dunia. Anak tetap boleh menikmati makanan, berpakaian bagus, bersenang-senang, dan mendapatkan penghargaan.
Yang perlu dijaga adalah jangan sampai Food, Fashion, Fun, dan Fame memenuhi hati lebih besar daripada iman.
Sebab dunia boleh berada di tangan anak, tetapi jangan sampai ia bertahta di dalam hatinya.
Foto: Pexels
#ParentingIslami #PendidikanAnak #AnakSholeh #ParentingAnak #KeluargaMuslim #PolaAsuhAnak #AkhlakAnak #GenerasiIslami #UstazAdiHidayat #IslamicParenting