Bahaya Toxic Talk dan Pelecehan Verbal di Ruang Digital
Di era serba digital seperti sekarang, media sosial sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Kita bisa dengan mudah berinteraksi, berbagi cerita, hingga mengemukakan pendapat secara bebas. Namun, di balik kemudahan tersebut, ada satu fenomena yang kian memprihatinkan dan sering kali diabaikan, yaitu maraknya toxic talk yang mengarah pada pelecehan seksual verbal.
Banyak orang masih menganggap bahwa kekerasan hanya terjadi dalam bentuk fisik. Padahal, siulan menggoda di jalan, komentar vulgar di unggahan orang lain, hingga body shaming yang dibungkus alasan "bercanda" adalah bentuk kekerasan nyata yang menyakitkan. Alasan sekadar bercanda kerap dijadikan tameng bagi pelaku untuk menghindar dari tanggung jawab moral.
Fenomena ini membuktikan bahwa sebagian besar masyarakat kita masih belum peka membedakan mana humor yang sehat dan mana yang termasuk pelecehan. Di lingkungan pertemanan, kampus, hingga ruang komentar media sosial, ucapan kasar dan bernuansa seksual sering disalahartikan sebagai simbol keakraban atau formalitas pergaulan modern.
Dampak yang ditimbulkan oleh pelecehan verbal sama sekali tidak boleh dipandang sebelah mata. Korban sering kali merasa cemas, malu, hingga mengalami penurunan rasa percaya diri yang drastis. Parahnya lagi, budaya victim blaming atau menyalahkan korban membuat banyak dari mereka memilih diam karena takut dihujat atau dianggap terlalu sensitif.
Kondisi ini diperparah oleh budaya patriarki dan rendahnya empati emosional di ruang digital. Fitur anonim di media sosial membuat sebagian orang merasa bebas melemparkan ujaran kebencian atau komentar seksual tanpa memikirkan perasaan penerimanya. Ucapan kasar seolah menjadi sarana melampiaskan frustrasi atau sekadar mencari perhatian di internet.
Tuntunan Islam dalam Menjaga Lisan dan Kehormatan Sesama
Islam dari sejak awal telah memberikan pedoman yang sangat tegas mengenai pentingnya etika berkomunikasi dan menjaga lisan dari ucapan yang sia-sia maupun menyakiti.
Dalam Al-Qur’an, Allah Swt. berfirman: “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka.” (QS. Al-Isra: 53). Ayat ini mengingatkan kita bahwa setiap tutur kata yang keluar dari mulut adalah cerminan dari akhlak dan kadar keimanan seseorang.
Selain itu, Allah Swt. juga melarang keras sikap mengolok-olok orang lain sebagaimana tercantum dalam QS. Al-Hujurat ayat 11. Rasulullah saw. pun secara gamblang bersabda dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.”
Mamah Dedeh juga mengingatkan umat akan pentingnya menjaga lisan di mana pun berada. Beliau menegaskan, "Cerminan iman seorang muslim itu kelihatan dari lisannya. Jangan sampai lidah kita ini gampang melukai hati orang lain, apalagi dibungkus pakai alasan bercanda. Kalau tidak bisa bicara baik, lebih baik diam."
Perkataan tegas dari Mamah Dedeh ini menjadi pengingat kuat bagi kita semua agar tidak menggampangkan ucapan yang menyakiti sesama.
Membangun Budaya Komunikasi yang Empatis dan Beretika
Menghadapi maraknya pelecehan verbal di media sosial tidak cukup hanya dengan mengandalkan aturan hukum. Kita perlu melakukan pembenahan dari tingkat paling dasar, yaitu membangun etika komunikasi yang santun, empati, dan saling menghargai.
Ada beberapa langkah penting yang bisa kita lakukan bersama untuk menciptakan lingkungan ruang digital yang lebih aman:
1. Berhenti Menormalisasi Candaan Seksual: Mulai berani menegur atau tidak ikut tertawa saat ada teman yang menggunakan kekerasan verbal sebagai humor.
2. Tingkatkan Literasi Digital dan Emosional: Belajar memahami emosi diri dan menanamkan rasa empati sebelum mengetik komentar di media sosial.
3. Dukung Korban Pelecehan: Dengarkan dan beri ruang aman bagi korban tanpa menghakimi atau menyalahkan mereka.
Kata-kata yang kita ucapkan atau ketik di ruang digital memiliki kekuatan besar. Kata-kata bisa menjadi jembatan kebaikan, tetapi juga bisa berubah menjadi senjata yang merusak mental orang lain. Mari kita gunakan kebebasan berkomunikasi secara bijak demi terciptanya peradaban digital yang lebih sehat dan berakhlak.
Foto: Pexels
#ToxicTalk #PelecehanVerbal #EtikaMediaSosial #LiterasiDigital #JagaLisan #BijakBermedsos #StopVictimBlaming #InspirasiIslami #EdukasiGenZ #MamahDedeh