Pernahkah kamu melihat anak langsung mencari ponsel sesaat setelah bangun tidur? Atau tiba-tiba gelisah ketika baterai gadget hampir habis? Jika iya, jangan anggap sepele. Bisa jadi itu merupakan tanda awal nomofobia, kondisi ketika seseorang merasa cemas atau tidak nyaman saat jauh dari telepon genggam.

Fenomena ini semakin sering ditemukan pada anak-anak dan remaja seiring meningkatnya penggunaan gadget dalam kehidupan sehari-hari. Jika tidak ditangani sejak dini, nomofobia dapat memengaruhi kesehatan fisik, mental, hingga perkembangan sosial anak.

Psikolog menjelaskan bahwa saat ini terjadi pergeseran bentuk kecanduan. Jika dahulu lebih banyak berkaitan dengan zat adiktif seperti alkohol atau narkotika, kini muncul adiksi perilaku, salah satunya kecanduan internet dan gadget. Bukan hanya kecanduan bermain game online tapi juga kecanduan media sosial hingga belanja daring.

Kondisi tersebut dikenal sebagai Internet Addiction Disorder atau Screen Dependency Disorder, yakni ketergantungan terhadap layar digital yang membuat seseorang sulit melepaskan diri dari gadget. Data Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menunjukkan fakta yang patut menjadi perhatian. Sebanyak 48 persen pengguna internet di Indonesia merupakan anak-anak berusia di bawah 18 tahun. Yang lebih memprihatinkan, sebagian besar dari mereka mengakses internet setiap hari dengan durasi rata-rata lebih dari tujuh jam. Angka ini menunjukkan bahwa teknologi telah menjadi bagian dari kehidupan mereka sejak usia dini.

Kenali Gejala Nomofobia
Nomofobia bukan sekadar kebiasaan bermain ponsel terlalu lama. Ada beberapa tanda yang patut diwaspadai orang tua.

Anak selalu mencari gadget begitu bangun tidur, merasa tidak bisa menjalani aktivitas tanpa ponsel, terus-menerus mengecek notifikasi, cemas saat baterai hampir habis, hingga membawa gadget ke mana pun pergi.

Selain itu, kecanduan gadget juga bisa ditandai dengan durasi penggunaan yang terus meningkat dan sulit dihentikan. Orang tua harus waspada jika anak sampai kehilangan minat terhadap aktivitas selain screentime.

Tak hanya memengaruhi perilaku, penggunaan gadget yang berlebihan juga dapat menyebabkan gangguan mata, kualitas tidur menurun, nyeri pada leher dan punggung, hingga masalah nutrisi akibat kurang bergerak.

Waspadai Tanda BLAST
Dalam dunia parenting dikenal istilah BLAST sebagai salah satu cara mengenali penyebab anak mudah kecanduan gadget.

Bored, anak merasa bosan dengan rutinitasnya.

Lonely, merasa kesepian karena kurangnya kedekatan dengan orang tua.

Angry and Afraid, menyimpan kemarahan atau ketakutan tetapi tidak tahu kepada siapa harus bercerita.

Stress, mengalami tekanan dari lingkungan sekolah maupun pergaulan.

Tired, mudah lelah secara emosional maupun fisik.

Saat kondisi-kondisi tersebut tidak ditangani, gadget sering kali menjadi pelarian yang dianggap paling mudah dan menyenangkan.

Peran Orang Tua Sangat Menentukan
Mengatasi nomofobia bukan berarti langsung melarang anak menggunakan gadget sepenuhnya. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan digital yang sehat sejak dini.

Orang tua dapat membuat aturan penggunaan gadget berdasarkan waktu dan tempat, menyesuaikan pemberian gawai dengan usia anak, memperbanyak aktivitas keluarga tanpa layar, serta menjadi teladan dalam menggunakan teknologi secara bijak.

Komunikasi yang hangat juga menjadi kunci agar anak merasa nyaman bercerita sehingga tidak menjadikan gadget sebagai satu-satunya teman.

Ustaz Adi Hidayat pernah mengingatkan bahwa anak merupakan amanah yang harus dijaga dengan sungguh-sungguh.

"Anak itu amanah. Amanah bukan hanya diberi makan dan pakaian, tetapi juga diarahkan agar tumbuh pada jalan yang benar. Orang tua tidak cukup hanya mencintai, tetapi juga mendidik," pesan Ustaz Adi Hidayat.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa mendampingi anak di era digital tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas. Orang tua juga perlu hadir, mendengarkan, mengawasi, sekaligus menjadi contoh dalam menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Di tengah kemajuan digital yang tak bisa dihindari, gadget sejatinya hanyalah alat. Yang menentukan manfaat atau mudaratnya adalah bagaimana keluarga menggunakannya. Dengan pendampingan yang tepat, anak dapat memanfaatkan teknologi sebagai sarana belajar dan berkarya, bukan menjadi sumber kecanduan yang mengganggu tumbuh kembangnya.

 

Foto: Pexels

 

#Nomofobia #KecanduanGadget #Parenting #AnakDigital #KesehatanMentalAnak #PolaAsuh #TipsOrangTua #UstazAdiHidayat #KeluargaMuslim #EdukasiAnak