Kembali ke semua artikel
Quiet Quitting, Kerja Secukupnya Tanpa Kehilangan Berkah. Bisakah?
Gaya Hidup Halal 05 July 2026 4 menit baca

Quiet Quitting, Kerja Secukupnya Tanpa Kehilangan Berkah. Bisakah?

Ditulis oleh Ovi Shofianur

Belakangan ini, lini masa kita sering banget diramaikan oleh istilah quiet quitting. Bagi kamu yang aktif di media sosial, tren ini pasti sudah gak asing lagi.

Alih-alih mengundurkan diri secara resmi dari perusahaan, quiet quitting adalah fenomena di mana seorang karyawan memilih untuk bekerja secukupnya saja—tepat sesuai deskripsi pekerjaan (job desk), pulang tenggo, dan menolak keras kerja lembur di luar jam kantor.

Tren ini makin populer di kalangan Gen Z dan Milenial sebagai bentuk protes diam-diam terhadap budaya kerja berlebihan (hustle culture) demi menjaga kesehatan mental mereka agar tidak tumbang.

Banyak orang tertarik pada gerakan ini karena mereka mulai sadar bahwa hidup bukan cuma untuk bekerja.

Kelelahan fisik dan mental (burnout) serta minimnya apresiasi dari perusahaan membuat banyak pekerja muda memilih untuk menarik batas tegas antara kehidupan profesional dan personal.

Fenomena ini tentu menarik untuk kita bedah, terutama bagaimana pandangan Islam serta nasihat bijak dari KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), dalam menyikapi etos kerja yang satu ini.

Batasan Profesional dalam Bingkai Amanah dan Profesionalisme Islam
Jika kita melihat dari kacamata Islam, bekerja sesuai porsi kontrak yang sudah disepakati sebenarnya bukanlah hal yang dilarang. Islam adalah agama yang sangat menghormati akad atau perjanjian.

Ketika kamu bekerja tepat waktu dan menyelesaikan seluruh tugas sesuai job desk tanpa dikurangi, kamu sudah menunaikan amanah dengan benar.

Rasulullah saw. selalu mengajarkan umatnya untuk bekerja secara profesional dan bersungguh-sungguh (itqan). Jadi, bekerja secukupnya sesuai hak dan kewajiban formal itu sah-sah saja.

Namun, yang perlu kita garis bawahi adalah motivasi di baliknya. Islam menolak keras jika quiet quitting dijadikan alasan untuk bermalas-malasan, bekerja setengah hati, atau sengaja menurunkan kualitas kerja demi "balas dendam" kepada perusahaan.

Jika jam kerja kita di kantor adalah delapan jam, maka selama waktu tersebut kita wajib memberikan performa terbaik sebagai bentuk pertanggungjawaban kita kepada Allah Swt. Bekerja dengan jujur dan ikhlas adalah kunci utama agar setiap rupiah yang masuk ke kantong kita bernilai berkah.

Menata Niat dan Menghindari Kehampaan Jiwa ala Aa Gym
Menyikapi fenomena ini, jika kita refleksikan dengan pesan-pesan sejuk dari Aa Gym tentang manajemen qolbu, kunci dari segala kenyamanan kerja sebenarnya terletak pada penataan niat.

Aa Gym sering kali mengingatkan kita bahwa salah satu penyebab terbesar manusia mudah lelah, stres, dan kecewa dalam bekerja adalah karena salah menggantungkan harapan.

Ketika kita bekerja hanya demi mengejar pujian bos, bonus materi, atau pengakuan manusia, maka saat ekspektasi itu tidak tecapai, jiwa kita akan langsung merasa hampa dan terjebak dalam keputusasaan.

Aa Gym mengajak kita semua untuk mengubah pola pikir: jadikan kerja sebagai ladang amal dan sarana beribadah kepada Allah Swt.

Kalau niatnya sudah lurus untuk mencari rida Allah Swt., kita tidak akan lagi terjebak pada dua kutub ekstrem—tidak akan gila kerja sampai mengorbankan diri (hustle culture), dan tidak pula bekerja dengan ogah-ogahan (quiet quitting yang toksik).

Kita akan bekerja dengan penuh ketenangan, tahu kapan harus memberikan ikhtiar terbaik, dan tahu kapan harus beristirahat serta bertawakal menyerahkan hasilnya.

Langkah Seimbang Mengelola Karier dan Kedamaian Mental
Agar kita bisa memiliki batasan kerja yang sehat tanpa kehilangan semangat berprestasi dan nilai keberkahan, berikut adalah beberapa langkah solutif yang bisa kita terapkan bersama:

1. Komunikasi Akad yang Jelas: Sampaikan secara transparan kepada atasan mengenai kapasitas kerja dan batasan waktu sejak awal agar tidak ada eksploitasi sepihak.

2. Luruskan Niat di Pagi Hari: Sebelum mulai bekerja, tata hati dan niatkan aktivitasmu hari ini sebagai ibadah demi memberi nafkah yang halal bagi keluarga.

3. Fokus pada Output Bermutu: Lebih baik bekerja efektif dan efisien selama jam kantor reguler daripada berlama-lama lembur namun tidak produktif.

4. Jaga Hak Tubuh dan Spiritual: Gunakan waktu di luar jam kerja untuk beristirahat, berkumpul bersama keluarga, dan mempertebal ibadah kepada Allah Swt.

Menjaga kesehatan mental itu penting, tetapi menjaga integritas dan kualitas diri jauh lebih utama.

Yuk, kita kelola ritme kerja kita dengan bijak, tetap profesional, dan selalu tebarkan energi positif di mana pun kita berada!

 

Foto: Magnific

 

#QuietQuitting #DuniaKerja #ManajemenQolbu #EtosKerja #KesehatanMental #SolusiIslami #AnakMudaProduktif #KerjaBerkah #TipsKarier #AaGym

Sukai dan bagikan artikel ini

Komentar

0 tanggapan dari pembaca

Belum ada komentar untuk artikel ini.

Artikel menarik lainnya

Lanjutkan dengan membaca artikel menarik lainnya

Lihat semua