Media sosial dan kecerdasan buatan hanyalah alat. Keduanya dapat menjadi sarana kebaikan atau pintu kerusakan, bergantung pada cara manusia menggunakannya. Kita mungkin
tidak mampu menghentikan perkembangan teknologi, tetapi kita masih mampu membimbing anak-anak agar memiliki iman yang kokoh, akal yang cerdas, dan akhlak yang mulia. Jangan
sampai mereka mengenal dunia digital lebih dekat daripada Al-Qur’an, atau lebih mengenal tokoh media sosial daripada para nabi dan ulama.
Marilah kita jadikan rumah sebagai tempat tumbuhnya iman, ilmu, kasih sayang, dan keteladanan, sehingga lahir generasi yang unggul dalam teknologi sekaligus kuat dalam
keimanan dan akhlaknya