Khutbah Jumat Salat Istisqa Ikhtiar dari Kemarau Panjang
damaiindonesiaku.id, Solo - Air bukan sekadar kebutuhan. Bagi petani, air adalah kehidupan. Tanpa air, sawah mengering, tanaman merana, dan penghasilan terancam.
Karena itu, ketika berbicara tentang hujan, Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan manusia untuk berdoa, tetapi juga mengajak mereka memperbaiki diri.
Pesan itulah yang disampaikan Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko, saat bertugas sebagai khatib sekaligus imam di Masjid As-Syiar RRI Surakarta, Jawa Tengah, Jumat (23/10/2026)
Jatmiko mengangkat QS Hud ayat 52. Ayat tersebut merekam seruan Nabi Hud AS kepada kaumnya agar memohon ampun dan bertobat kepada Allah SWT.
“Wahai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu, kemudian bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang lebat kepadamu dan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu. Janganlah kamu berpaling menjadi orang-orang yang berdosa.”
Pesannya sangat jelas yaitu istigfar dan tobat bukan perkara ringan yang selesai di ujung lisan. Keduanya menuntut perubahan sikap dan perilaku.
Lalu, Dia mengutip penjelasan Syekh Wahbah az-Zuhaili, seruan Nabi Hud berkaitan dengan kehidupan kaumnya yang membutuhkan air untuk pertanian dan perekonomian. Hujan bukan hanya perkara cuaca. Bagi masyarakat agraris, hujan menentukan keberlangsungan hidup.
“Namun, ayat tersebut tidak boleh dipahami secara serampangan. Setiap kemarau tidak serta-merta menjadi bukti bahwa Allah sedang menghukum manusia karena dosa tertentu. Kekeringan juga memiliki sebab-sebab alamiah dan klimatologis. introspeksi jauh lebih penting daripada sibuk menuding orang lain,” bebernya.
Lalu, apakah cukup dengan berdoa? Tidak. Salat istisqa menjadi salah satu ikhtiar spiritual untuk memohon hujan kepada Allah. Tetapi, manusia juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga sumber air, menghemat pemakaian air bersih, merawat lingkungan, dan membantu warga yang mengalami kesulitan.
“Doa adalah permohonan kepada Allah, sedangkan ikhtiar adalah kesungguhan manusia menggunakan kemampuan yang telah Allah berikan,” urainya
Di sinilah keseimbangan itu diperlukan. Manusia memohon kepada Allah, sekaligus bekerja dengan sungguh-sungguh.
Sebab, bertobat bukan hanya menundukkan kepala di hadapan Tuhan. Tobat juga semestinya membuat manusia lebih bertanggung jawab terhadap alam dan sesamanya.
“Hujan memang tidak berada dalam kendali manusia. Namun, menjaga air, merawat bumi, dan menolong sesama merupakan bagian dari tanggung jawab manusia, peduli agama, sistem, manusia dan lingkungan,” pungkasnya.