7 Fenomena Sains Ini Disebut Sudah Lebih Dulu Tertulis dalam Al-Quran
JAKARTA – Sebuah konten edukasi dari akun Instagram @detik_hikmah ramai dibagikan warganet. Konten itu mengangkat klaim bahwa jauh sebelum ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, sejumlah fenomena alam sudah lebih dulu disinggung dalam ayat-ayat Al-Quran. Konten yang tayang pada 20 Agustus itu, saat tangkapan layar diambil, telah mengumpulkan sekitar 920 like, 22 komentar, dan 108 bagikan ulang. Akun tersebut menyebut merujuk pada buku Pintar Sains dalam Al-Quran karya Nadiah Thayyarah.
Berikut tujuh fenomena yang diangkat beserta ayat yang dikaitkan:
1. Ledakan Raksasa (Big Bang)
Surah Al-Anbiya ayat 30 disebut menggambarkan langit dan bumi yang dahulu menyatu, lalu dipisahkan, dan segala sesuatu yang hidup berasal dari air.
2. Garis Edar Tata Surya
Surah Al-Anbiya ayat 33 dikaitkan dengan penciptaan malam dan siang, matahari dan bulan, yang masing-masing beredar pada garis edarnya sendiri.
3. Siklus Hujan
Surah Ar-Rum ayat 48 digambarkan menjelaskan proses angin menggerakkan awan, awan yang menggumpal, hingga akhirnya turun sebagai hujan.
4. Langit Tujuh Lapis
Surah Al-Mulk ayat 1–4 dan Surah Al-Mu'minun ayat 17 disebut menyinggung penciptaan tujuh lapis langit.
5. Api di Dasar Laut
Surah At-Tur ayat 6 dikaitkan dengan fenomena lautan yang "dipanaskan", yang oleh akun ini dihubungkan dengan aktivitas vulkanik di dasar laut.
6. Pertemuan Dua Laut yang Tidak Menyatu
Surah Ar-Rahman ayat 19–20 digambarkan menyebut dua laut yang bertemu namun dipisahkan oleh batas yang tidak dilampaui satu sama lain.
7. Sungai di Dasar Laut
Surah Al-Furqan ayat 53 disebut menjelaskan dua jenis air, tawar dan asin, yang mengalir berdampingan namun dipisahkan oleh sekat yang tidak tembus.
Catatan
Kaitan antara ayat-ayat Al-Quran dengan temuan sains modern merupakan bidang yang dikenal sebagai i'jaz ilmi (kemukjizatan ilmiah), sebuah pendekatan tafsir yang menuai pandangan beragam di kalangan ulama dan ilmuwan Muslim sendiri. Sebagian ulama tafsir mendukung pendekatan ini sebagai bukti keagungan Al-Quran, sementara sebagian lain mengingatkan agar penafsiran ilmiah tidak dipaksakan pada teks yang bersifat umum, mengingat pemahaman sains terus berkembang dan bisa berubah. Pembaca disarankan merujuk pada kitab tafsir dan kajian yang kompeten untuk pemahaman yang lebih mendalam.