← Kembali ke semua artikel
Kabar Dunia Islam 24 September 2026 2 menit baca

Bukan karena Tak Salat atau Puasa: Tauhid Ternyata Bisa Retak Pelan-Pelan gara-gara Kebiasaan Sepele Ini

Wahyu Aldiansyah
Ditulis oleh Wahyu Aldiansyah

 

JAKARTA – Unggahan Instagram bertema akidah dari akun @daionlineofficial ramai dibagikan warganet. Konten itu mengangkat peringatan bahwa keimanan bisa terkikis pelan-pelan, bukan karena meninggalkan ibadah, tetapi karena kebiasaan yang dianggap sepele. Unggahan tayang pada 4 Juli. Saat tangkapan layar diambil, ia telah mengumpulkan sekitar 7,4 ribu like, 81 komentar, dan 1,3 ribu bagikan ulang.

"Tauhid Tidak Hancur dalam Semalam"
Pesan utama unggahan itu, tauhid tidak runtuh seketika. Ia retak sedikit demi sedikit ketika hati mulai bergantung kepada selain Allah. Menurut akun tersebut, kerusakan itu bukan berasal dari orang yang tidak salat atau tidak puasa, melainkan dari kebiasaan yang dianggap remeh. Yang lebih mengkhawatirkan, banyak orang melakukannya tanpa merasa bersalah.

Kebiasaan yang Disorot
Akun itu menyebut sejumlah praktik yang dinilai dapat menjadi pintu menuju syirik:

  • memakai jimat,
  • percaya ramalan,
  • datang ke dukun,
  • menggantungkan harapan perlindungan pada benda, orang, atau makhluk gaib.

Semua itu, menurut unggahan tersebut, sering berawal dari satu dalih: "ini hanya ikhtiar". Akun ini menegaskan bahwa yang paling berbahaya bukan bendanya, melainkan keyakinan di dalam hati.

Dalil yang Dikutip
Untuk memperkuat pesannya, akun ini mengutip Surah Al-An'am ayat 17 bahwa tidak ada yang dapat menghilangkan kemudaratan selain Allah. Ia juga mengutip hadits riwayat Ahmad tentang orang yang menggantungkan tamimah (jimat) yang disebut telah berbuat syirik. Unggahan menyebut hadits itu dinilai hasan oleh sejumlah ulama. Selain itu ada Surah An-Nisa ayat 48 tentang dosa syirik. Dari dalil-dalil tersebut, akun itu menyimpulkan bahwa keselamatan tidak datang dari jimat, dukun, atau benda apa pun, melainkan hanya dari Allah.

Ajakan Menjaga Tauhid
Unggahan ditutup dengan peringatan bahwa syirik jarang datang sekaligus. Ia masuk lewat kebiasaan yang dianggap biasa, lalu diwariskan, hingga akhirnya dianggap bagian dari agama. Pembaca diajak menjaga tauhid sebagai "harta paling berharga" dan tidak menukarnya dengan kebiasaan yang tidak diajarkan Rasulullah. Dalam keterangan unggahan, akun tersebut juga mengajak pembaca membagikan pesan itu agar lebih banyak orang terhindar dari syirik.

Catatan
Konten ini merupakan pandangan pengunggah dari sudut pandang akidah. Praktik yang disebutkan memiliki tafsir dan penilaian berbeda di kalangan ulama dan masyarakat, termasuk tradisi budaya yang beragam di Indonesia. Pembaca disarankan merujuk kepada ulama atau lembaga keagamaan yang kompeten untuk pemahaman lebih dalam.

💬
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama mengomentari postingan ini.

Konten Lainnya

Konten sosial media lainnya yang mungkin kamu suka.

Lihat semua