Isra Mi'raj Ternyata Lahir dari Duka Terdalam: Unggahan tentang "Tahun Kesedihan" Nabi Dibagikan 81 Ribu Kali
JAKARTA – Selama ini Isra Mi'raj lebih sering dikenang sebagai mukjizat perjalanan super cepat. Sebuah konten edukasi dari akun Instagram @ruang.dialog.co mengajak publik melihat sisi lain yang jarang diceritakan: peristiwa agung itu terjadi ketika hati Nabi Muhammad SAW sedang hancur. Saat tangkapan layarnya diambil, unggahan yang tayang pada 14 Januari itu telah mengumpulkan sekitar 386,8 ribu like, 4,8 ribu komentar, dan 81,6 ribu bagikan ulang.
Konten itu diawali pertanyaan reflektif: mengapa perjalanan tersebut terjadi tepat pada saat Nabi berada di titik terendah?
Tahun Kesedihan: Kehilangan, Blokade, dan Penolakan
Akun tersebut merangkum tahun ke-10 kenabian, yang dikenal sebagai 'Am al-Huzn atau Tahun Kesedihan. Dalam waktu singkat, Nabi kehilangan dua sosok yang paling menopangnya: istrinya, Khadijah, dan pamannya, Abu Thalib, yang selama ini melindunginya dari tekanan kaum Quraisy. Sebelumnya, Nabi dan keluarganya disebut menjalani boikot selama tiga tahun di sebuah celah bukit sempit dengan pasokan makanan yang terputus.
Kesulitan itu berlanjut ketika Nabi berjalan ke Ta'if untuk mencari perlindungan. Menurut unggahan tersebut, yang beliau terima justru lemparan batu dari orang-orang suruhan para pemimpin setempat hingga tubuhnya berdarah. Akun ini melukiskan situasi itu sebagai penolakan di tanah kelahiran dan pengusiran di tanah rantau.
Doa yang Jadi Titik Balik
Dalam kondisi sakit dan terluka, Nabi digambarkan mengadukan kelemahannya kepada Allah lewat sebuah doa yang terkenal, yang intinya berserah kepada Allah selama Dia tidak murka. Unggahan itu menyebutnya sebagai doa seorang hamba yang merasa sendirian, ketika "pintu bumi" tertutup rapat. Akun ini menambahkan bahwa kondisi dunia kala itu pun tidak kondusif, karena Yerusalem disebut sedang porak-poranda akibat pendudukan Persia.
Isra Mi'raj sebagai "Penghiburan"
Pada titik tergelap itulah, menurut akun tersebut, Allah mengutus Jibril. Isra Mi'raj tidak dimaknai sekadar sebagai pameran mukjizat, tetapi sebagai tasliyah, penghiburan bagi Nabi. Dari perjalanan itu Nabi membawa pulang perintah shalat. Unggahan itu memaknainya sebagai cara agar umat punya jalan untuk "naik" menemui Allah saat hati hancur. Shalat digambarkan sebagai pelukan Allah yang bisa dirasakan lima kali sehari.
Pesan untuk Pembaca
Unggahan ditutup dengan pesan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya, terutama di titik terendah. Ujian berat hari ini, menurut akun itu, bisa jadi cara Allah menyiapkan "Mi'raj", yakni kenaikan derajat, di kemudian hari. Pembaca diajak menyimpan dan membagikan pesan itu kepada siapa pun yang sedang membutuhkan penguatan hati.
Catatan
Konten ini merupakan narasi sirah (sejarah Nabi) yang dikemas dengan pendekatan reflektif oleh pengunggah. Sebagian riwayat dalam sirah memiliki perbedaan penilaian di kalangan ulama, sehingga pembaca disarankan merujuk kepada kitab sirah atau ulama yang kompeten.