Bulan Terbelah, Tapi Tak Tercatat Dunia? Unggahan Ini Ramai Diperdebatkan karena Sebut Pertanyaan Itu "Cacat Logika"
JAKARTA – Pertanyaan lama yang kerap muncul dalam diskusi agama kembali diperdebatkan di Instagram. Jika bulan benar-benar terbelah pada masa Nabi Muhammad SAW, mengapa peristiwa itu tidak dicatat oleh seluruh peradaban dunia? Konten edukasi dari akun @zeelanns bersama @tauhidproject.id mencoba menjawabnya dengan pendekatan logika dan metodologi sejarah. Unggahan itu tayang pada 19 Juli. Saat tangkapan layar diambil, ia telah mengumpulkan sekitar 1,8 ribu like, 1,3 ribu komentar, dan 138 bagikan ulang.
Konten berformat carousel itu dibuka dengan pertanyaan yang dinilai banyak orang terdengar ilmiah: apakah ketiadaan catatan global membuktikan mukjizat tersebut palsu? Unggahan ini merupakan respons terhadap komentar warganet yang mempertanyakan hal serupa.
Dinilai sebagai "Argument from Silence"
Menurut unggahan itu, pertanyaan tersebut mengandung kekeliruan metodologis yang dalam studi sejarah dikenal sebagai argument from silence. Cara berpikir ini menganggap tidak adanya catatan sebagai bukti bahwa suatu peristiwa tidak pernah terjadi. Akun itu menegaskan bahwa ketiadaan dokumen bukan bukti ketiadaan peristiwa. Ia menyebut banyak peristiwa kuno yang tidak didokumentasikan semua peradaban tetap diakui para sejarawan. Di bagian lain, ia menyinggung kaidah absence of evidence is not evidence of absence, dan menyebut ada ketidakkonsistenan jika standar itu hanya dipakai untuk menguji satu peristiwa tertentu.
Faktor Waktu, Geografi, dan Cuaca
Unggahan tersebut kemudian menguraikan alasan mengapa peristiwa itu tidak disaksikan semua orang:
- Kejadiannya berlangsung malam hari dan sangat singkat, saat sebagian besar orang tidur.
- Peristiwa itu terjadi sebelum ada teleskop, kamera, satelit, atau media komunikasi global.
- Tidak semua wilayah bumi sedang malam pada saat yang sama, dan posisi bulan berbeda menurut garis bujur.
- Cuaca seperti awan tebal, hujan, atau badai bisa menghalangi pandangan ke bulan purnama sekalipun.
- Akun itu menambahkan bahwa gerhana bulan zaman sekarang pun banyak yang tidak menyaksikannya langsung, apalagi fenomena yang berlangsung sesaat.
Klaim Reaksi Kaum Quraisy
Unggahan itu juga merujuk riwayat hadits tentang reaksi kaum Quraisy di Makkah. Setelah melihat peristiwa tersebut, mereka disebut menuduhnya sihir. Lalu mereka menyarankan agar orang bertanya kepada para musafir dari luar Makkah. Menurut akun tersebut, itu adalah bentuk verifikasi awal untuk memastikan apakah peristiwa itu hanya ilusi lokal. Ia menyebut riwayat yang mengatakan para musafir juga melaporkan hal serupa, tetapi kaum Quraisy tetap menolaknya.
Mukjizat Bukan Fenomena Rutin
Unggahan itu menegaskan bahwa mukjizat tidak sama dengan fenomena astronomi rutin seperti gerhana atau hilal yang bisa dihitung. Tidak ada astronom yang menunggu, tidak ada observatorium internasional, dan tidak ada sistem pencatatan global atau internet pada abad ke-7. Karena itu, menuntut semua bangsa mencatatnya dinilai sebagai standar modern yang dipaksakan pada masa lalu.
Catatan
Konten ini merupakan argumentasi pengunggah dari sudut pandang keyakinan. Peristiwa terbelahnya bulan (syaqqul qamar) dibahas dalam literatur tafsir dan hadits, dan para ulama serta akademisi memiliki beragam pandangan tentang aspek historis dan penafsirannya. Pembaca disarankan merujuk kepada ulama atau kajian yang kompeten.