Unggahan "Bareng Quran" Soroti Alasan Banyak Anak Muda Menjauh dari Islam: Bukan Benci, tapi Lelah dan Tak Ada yang Membimbing
JAKARTA – Sebuah konten edukasi dari akun Instagram Bareng Quran ramai dibicarakan warganet. Unggahan berformat carousel itu mengangkat pertanyaan yang cukup sensitif: mengapa banyak orang meninggalkan agamanya di era yang disebut sebagai akhir zaman. Jawaban yang ditawarkan akun ini adalah mereka pergi bukan karena membenci Islam, melainkan karena tidak ada yang mengajarkan cara bertahan.
Unggahan itu dibuka dengan visual bernuansa gelap dan dramatis, berupa mata yang terikat tali di tengah kobaran api. Visual tersebut menegaskan nada peringatan yang menjadi benang merah kontennya.
Bukan Benci, Tapi Lelah
Menurut akun tersebut, banyak orang yang keluar dari Islam bukan karena kebencian. Mereka lelah dengan agama yang terasa seperti beban, bukan pelukan. Unggahan itu menilai kondisi ini sebenarnya sudah diperingatkan Al-Quran, lalu mengajak pembaca membacanya dengan jujur.
Dunia yang Terasa Lebih Nyata dari Akhirat
Akun ini mengutip Surah Ar-Rum ayat 7 tentang manusia yang hanya mengetahui sisi lahir kehidupan dunia dan lalai terhadap akhirat. Ayat itu dikaitkan dengan gaya hidup digital saat ini. Kesenangan bisa dipesan dalam hitungan detik, layar lebih mudah disentuh daripada sajadah, dan kepuasan sesaat terasa lebih nyata daripada janji surga. Menurut unggahan tersebut, generasi ini tidak otomatis kafir. Mereka hanya belum pernah diajari cara merasakan kedekatan dengan akhirat.
Pendidikan Agama yang Dinilai Kurang Menghadirkan Kasih Sayang
Unggahan itu juga mengkritik pola pengajaran agama yang dianggap terlalu berfokus pada larangan dan ancaman neraka. Banyak anak, menurutnya, tumbuh tanpa pernah mendengar bahwa Allah menyayangi mereka. Dalam kondisi itu, mereka mudah tergoda oleh dunia yang menawarkan penerimaan tanpa syarat.
Syubhat Lebih Cepat dari Jawaban
Di sisi lain, keraguan terhadap agama kini menyebar cepat lewat cuitan singkat, video berdurasi satu menit yang terlihat ilmiah, dan argumen yang dibungkus sebagai "rasional" atau "bebas". Sementara itu, banyak orang tidak pernah dibekali cara menjawabnya. Akun ini mengutip Surah Yusuf ayat 5 tentang setan sebagai musuh yang nyata, dan menyimpulkan bahwa fondasi yang lemah akan runtuh saat badai datang.
Krisis Makna dan Pencarian Ketenangan
Akun tersebut menilai manusia modern sedang mengalami krisis makna dan identitas. Pencarian jawabannya menyebar ke meditasi, filsafat Barat, komunitas alternatif, hingga ideologi yang menolak Tuhan. Unggahan itu mengutip Surah Ar-Ra'd ayat 28 bahwa hati menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Persoalannya, menurut mereka, bukan karena Islam tidak punya jawaban, tetapi karena jarang ada yang menunjukkan bahwa Al-Quran adalah jawaban itu.
Ajakan untuk Menjemput, Bukan Menunggu
Di bagian penutup, unggahan itu mengajak umat lebih aktif merangkul orang-orang yang sedang ragu. Mereka dinilai tidak butuh ceramah, tetapi butuh didengar. Akun ini merujuk pada teladan Nabi Muhammad SAW yang disebut turun langsung ke tengah masyarakat, duduk bersama, bertanya, dan mendengar. Pertanyaan yang takut diajukan karena dianggap "berbahaya" perlu diberi ruang, sebab menjawabnya adalah tanggung jawab bersama. Unggahan ini ditutup dengan kutipan Surah Fussilat ayat 33 tentang keutamaan orang yang menyeru kepada Allah.
Catatan
Isi unggahan merupakan pandangan dan tafsir pribadi pengelola akun, bukan fatwa atau pandangan resmi lembaga keagamaan. Pembaca disarankan merujuk kepada ulama atau lembaga yang berkompeten untuk pemahaman lebih dalam.