← Kembali ke semua artikel
Kabar Dunia Islam 24 September 2026 3 menit baca

Viral, Unggahan Kaitkan Hadits tentang Dicabutnya Ilmu dengan Banjir Informasi di Era Internet

Wahyu Aldiansyah
Ditulis oleh Wahyu Aldiansyah

JAKARTA – Sebuah konten edukasi di Instagram ramai dibagikan warganet. Konten itu mengajak publik merenungi hadits Nabi Muhammad SAW tentang dicabutnya ilmu dan menghubungkannya dengan derasnya arus informasi digital saat ini. Unggahan tersebut berasal dari akun Kingdom of Siruh dan dikemas dalam format carousel.

Konten itu dibuka dengan judul provokatif, "Ketika Nabi Menggambarkan Internet… 1400 Tahun Sebelum Ia Ada". Judul tersebut dipadukan dengan ilustrasi digital sosok berjubah di tengah majelis di bawah langit malam.

Hadits dan Tafsir Kontekstual
Inti unggahan adalah sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim. Hadits itu mengingatkan bahwa ilmu akan dicabut hingga manusia bertanya kepada orang yang tidak berilmu, lalu mereka berfatwa tanpa ilmu sehingga sesat dan menyesatkan.

Akun tersebut menegaskan bahwa Rasulullah tidak pernah menyebut kata "internet". Menurut unggahan itu, yang digambarkan Nabi adalah akibatnya: saat semua orang bisa bicara, suara yang benar mudah tenggelam di antara jutaan suara yang lantang.

Dari Bertanya kepada Ulama ke "Tanya Google"
Unggahan itu memotret perubahan cara orang mencari pengetahuan. Dahulu orang bertanya kepada ulama, guru, atau membuka kitab. Kini orang beralih ke mesin pencari, media sosial, kecerdasan buatan, hingga kolom komentar. Siapa pun bisa menjawab, dari mana pun, sering kali tanpa sanad atau landasan keilmuan yang jelas.

Untuk memperkuat argumennya, akun tersebut mengutip laporan Reuters Institute Digital News Report 2023 yang menunjukkan media sosial kian menjadi sumber informasi utama kalangan anak muda.

Konten itu juga menyinggung gejala yang akrab di kalangan pengguna media sosial: remaja yang lebih percaya video berdurasi 60 detik ketimbang ulama yang puluhan tahun mengaji, fatwa yang beredar lewat caption, dan perdebatan agama yang "selesai" di kolom komentar.

"Internet Bukan Musuh"
Meski bernada kritis, unggahan ini tidak menyalahkan teknologi. Ia menegaskan bahwa yang menjadi masalah adalah "kebodohan yang percaya diri", bukan internet itu sendiri. Menurutnya, internet hanya menyuburkan ekosistem tempat kebodohan semacam itu mudah tumbuh dan menyebar.

Konten itu ditutup dengan ajakan reflektif. Pembaca diminta bertanya kepada diri sendiri siapa yang menjadi rujukan mereka, apakah mereka menjaga atau justru membuang ilmu, dan apakah beranda media sosial mereka diisi pencari ilmu atau sekadar orang yang terseret arus. Pesan utamanya: ilmu tidak diukur dari banyaknya konten yang di-scroll, tetapi dari kedalaman berhenti dan berpikir. Pembaca juga diajak menyimpan konten itu dan menandai orang lain yang perlu membacanya.

Catatan
Pengaitan hadits dengan fenomena internet merupakan tafsir kontekstual dari pengunggah, bukan pandangan resmi lembaga keagamaan. Masyarakat dianjurkan merujuk kepada ulama yang kompeten dalam memahami hadits dan hukum Islam.

💬
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama mengomentari postingan ini.

Konten Lainnya

Konten sosial media lainnya yang mungkin kamu suka.

Lihat semua