Ternyata Begini Adab Menghormati Lansia yang Dicontohkan Para Sahabat
Pernahkah ketika kamu sedang buru-buru banget karena takut terlambat, tapi mendadak jalanmu terhalang oleh orang yang jalannya super lambat? Rasa mau menyalip atau meluapkan kekesalan pasti sempat terlintas di pikiran. Namun, hal berbeda justru dicontohkan oleh sosok pemuda hebat dalam sejarah Islam, yaitu Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra.
Kisah inspiratif ini memberikan tamparan manis buat kita semua tentang betapa tingginya kedudukan adab dan rasa hormat kepada orang tua, bahkan di tengah situasi yang amat mendesak sekalipun.
Terburu-buru Menuju Masjid di Waktu Subuh
Suatu pagi, Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. berjalan cepat menuju masjid untuk menunaikan shalat Subuh berjamaah bersama Rasulullah saw. Waktu Subuh saat itu sudah sangat mepet, sehingga beliau mempercepat langkahnya agar tidak ketinggalan rakaat.
Namun di tengah perjalanan, langkah beliau mendadak tertahan. Di depan beliau, tampak seorang laki-laki lansia yang berjalan sangat pelan. Sebagai pemuda yang kuat dan sigap, tentu sangat mudah bagi Sayyidina Ali ra. untuk mendahului kakek tersebut. Uniknya, beliau memilih untuk tetap berjalan pelan di belakang sang lansia.
Beliau melakukan itu bukan karena enggan menyalip, melainkan demi memuliakan dan menghormati usia tua kakek tersebut. Bagi beliau, menjaga adab dan menghormati orang yang lebih tua adalah cerminan ajaran mulia dari Allah Swt. dan Rasulullah saw.
Kejutan di Depan Pintu Masjid
Waktu terus bergulir dan matahari makin mendekati waktu terbit. Meski dibayangi kecemasan akan tertinggal shalat berjamaah, Sayyidina Ali ra. tetap bersabar mengekor di belakang kakek tua itu tanpa rasa kesal sedikit pun.
Sesampainya di depan pintu masjid, sebuah kenyataan terungkap. Kakek tersebut ternyata tidak masuk ke masjid karena beliau merupakan seorang pemeluk agama Nasrani. Beliau hanya lewat di depan area tempat ibadah tersebut.
Begitu mengetahui hal itu, Sayyidina Ali ra. segera bergegas masuk ke dalam masjid. Luar biasanya, beliau mendapati Rasulullah saw. masih dalam keadaan rukuk. Alhasil, beliau masih bisa menyelaraskan gerakan dan mendapatkan keutamaan shalat Subuh berjamaah secara utuh.
Pertolongan Allah Swt. untuk Sebuah Keikhlasan
Seusai shalat selesai, para sahabat yang penasaran memberanikan diri bertanya kepada Rasulullah saw. Pasalnya, durasi rukuk pada shalat Subuh pagi itu terasa jauh lebih lama dibanding biasanya. Rasulullah saw. lantas menjelaskan rahasia di baliknya:
Malaikat Jibril datang dan menahan tubuh Rasulullah saw. saat hendak bangkit dari rukuk, khusus menunggu Sayyidina Ali ra. sampai di masjid.
Dalam beberapa riwayat, Allah Swt. bahkan memerintahkan Malaikat Mikail untuk menahan pergerakan matahari sejenak agar waktu Subuh tidak terlewat.
Meskipun terdapat ragam status pembahasan riwayatnya, hikmah mendalam dari peristiwa ini sangat terasa bagi kehidupan kita. Allah Swt. menunjukkan bahwa sebuah kebaikan kecil yang dilakukan dengan ikhlas demi menjaga adab—bahkan kepada sesama manusia tanpa memandang perbedaan agama—mendapatkan kedudukan yang sangat tinggi di sisi-Nya.
Sikap santun yang ditunjukkan oleh Sayyidina Ali ra. membuka mata kita bahwa kemuliaan seseorang tidak hanya diukur dari banyaknya ritual ibadah semata. Cara kita memperlakukan sesama manusia, terutama menyayangi dan menghargai para lansia, merupakan cerminan akhlak sejati seorang Muslim.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat ini, yuk kita belajar untuk selalu mendahulukan adab dan rasa hormat kepada siapa pun di sekitar kita.
Foto: Pexels
#AkhlakMulia #SayyidinaAli #KisahInspiratif #AdabIslam #AnakMudaHijrah #TeladanRasul #LansiaBerdaya #IslamRahmatanLilAlamin #HikmahKehidupan #PemudaHijrah