Menyampaikan kebenaran tidak selalu berujung pada pujian. Bahkan, orang yang paling mulia di muka bumi, Nabi Muhammad saw., harus menghadapi penolakan, hinaan, hingga ancaman dari keluarga terdekatnya sendiri. Salah satu penentang paling keras adalah pamannya, Abu Lahab, yang namanya bahkan diabadikan dalam Al-Qur'an sebagai simbol permusuhan terhadap dakwah Islam.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa jalan menuju kebaikan sering kali dipenuhi ujian. Namun, keteguhan Rasulullah menunjukkan bahwa seorang muslim tidak boleh meninggalkan kebenaran hanya karena tekanan atau ancaman.

Sejak menerima wahyu pertama, Nabi Muhammad saw. mengajak masyarakat Makkah meninggalkan penyembahan berhala dan hanya beribadah kepada Allah. Dakwah tersebut membuat para pemuka Quraisy merasa terancam. Mereka khawatir kehilangan pengaruh, kekuasaan, dan keuntungan ekonomi yang selama ini bertumpu pada tradisi penyembahan berhala di sekitar Ka'bah.

Di antara tokoh yang paling keras menentang Rasulullah adalah Abu Lahab. Meski masih memiliki hubungan darah sebagai paman, ia justru menjadi orang pertama yang terang-terangan memusuhi dakwah Islam. Bersama istrinya, Ummu Jamil binti Harb, Abu Lahab tidak hanya mencaci Nabi, tetapi juga berusaha menghalangi setiap langkah dakwah beliau.

Tekanan kaum Quraisy semakin berat. Mereka mendatangi Abu Thalib, paman yang selama ini melindungi Rasulullah, agar menghentikan dakwah keponakannya. Jika tidak, mereka mengancam akan memerangi Bani Hasyim.

Abu Thalib kemudian menyampaikan ancaman tersebut kepada Rasulullah. Saat itulah Nabi Muhammad saw. mengucapkan kalimat yang kemudian menjadi salah satu pernyataan paling bersejarah dalam perjalanan dakwah Islam.

"Demi Allah, wahai Pamanku, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan ini, niscaya aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkan agama ini atau aku binasa karenanya."

Ucapan itu diriwayatkan dalam kitab Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam dan menjadi bukti betapa kuat keyakinan Rasulullah terhadap amanah yang diberikan Allah.

Mendengar tekad tersebut, Abu Thalib terharu. Ia akhirnya berkata bahwa dirinya tidak akan menyerahkan Muhammad kepada kaum Quraisy selama masih mampu melindunginya.

Namun, ancaman tidak berhenti sampai di situ.

Abu Lahab dan Ummu Jamil terus melakukan berbagai cara untuk menyakiti Rasulullah. Al-Qur'an mengabadikan permusuhan mereka melalui Surah Al-Lahab. Dalam berbagai riwayat sirah disebutkan bahwa Ummu Jamil sering menebarkan duri di jalan yang biasa dilalui Nabi Muhammad saw. agar beliau terluka ketika berjalan.

Tidak hanya itu, keduanya juga menyebarkan fitnah dan ejekan agar masyarakat menjauhi Rasulullah. Setiap kali beliau berdakwah di hadapan orang banyak, Abu Lahab kerap mengikuti dari belakang sambil mengatakan bahwa Muhammad adalah pendusta. Tujuannya hanya satu, membuat masyarakat tidak mempercayai ajaran Islam.

Meski diperlakukan demikian, Rasulullah tidak membalas dengan cacian atau kekerasan. Beliau memilih bersabar dan terus melanjutkan dakwah. Akhlak mulia inilah yang justru membuat banyak orang akhirnya tertarik mengenal Islam lebih dekat.

Ujian juga menyentuh kehidupan keluarga Rasulullah. Dalam kitab-kitab sirah disebutkan bahwa dua putri beliau, Ruqayyah dan Ummu Kultsum, yang semula telah dipinang oleh putra-putra Abu Lahab, akhirnya diceraikan atas perintah ayah mereka setelah Nabi menyampaikan dakwah Islam secara terbuka. Langkah itu dilakukan sebagai bentuk tekanan psikologis agar Rasulullah menghentikan dakwahnya. Namun, beliau tetap bersabar dan menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah.

Allah kemudian memberikan penghiburan sekaligus peringatan melalui Surah Al-Lahab. Surah ini menegaskan bahwa kebencian Abu Lahab tidak akan mampu menghentikan cahaya Islam.

Ustaz Adi Hidayat pernah menjelaskan bahwa turunnya Surah Al-Lahab merupakan bukti kekuasaan Allah. "Surah Al-Lahab adalah mukjizat. Ketika ayat itu turun, Abu Lahab masih hidup bertahun-tahun. Seandainya ia berpura-pura masuk Islam, tentu orang akan meragukan Al-Qur'an. Namun Allah sudah mengetahui isi hatinya, sehingga Abu Lahab wafat dalam keadaan tetap mengingkari kebenaran," kata UAH.

Dari kisah ini, ada pelajaran besar yang bisa diambil. Dakwah, menyampaikan kebenaran, atau mempertahankan prinsip memang tidak selalu mudah. Akan ada orang yang menolak, mencemooh, bahkan memusuhi. Namun, Rasulullah mengajarkan bahwa keberhasilan bukan diukur dari cepat atau lambatnya hasil, melainkan dari kesungguhan menjalankan amanah dengan sabar dan penuh keikhlasan.

Keteguhan Nabi Muhammad saw. juga mengajarkan bahwa kebencian manusia tidak akan pernah mampu mengalahkan pertolongan Allah. Abu Lahab memiliki kekuasaan, harta, dan pengaruh di tengah masyarakat Quraisy. Namun, namanya justru dikenang sebagai simbol penentang kebenaran. Sebaliknya, Nabi Muhammad saw. yang dahulu dihina kini menjadi teladan bagi miliaran umat Islam di seluruh dunia.

Itulah buah dari kesabaran. Ancaman boleh datang silih berganti, tetapi orang yang tetap teguh di jalan Allah akan selalu mendapatkan pertolongan-Nya, baik di dunia maupun di akhirat.

 

Foto: Pexels


#NabiMuhammad #SirahNabawiyah #AbuLahab #KisahIslam #SejarahIslam #UstazAdiHidayat #InspirasiIslam #Muslim #Hijrah #LifestyleIslami