Anak Kecil yang Membuat Imam Hanafi Menangis, Apa Katanya?
Tidak semua nasihat datang dari orang yang lebih tua atau lebih berilmu. Terkadang, Allah menyampaikan pelajaran berharga melalui sosok yang sama sekali tidak kita sangka. Itulah yang terjadi pada Imam Hanafi, seorang ulama besar pendiri Mazhab Hanafi, yang suatu hari dibuat menangis oleh ucapan seorang anak kecil.
Kisah ini telah lama menjadi teladan tentang pentingnya menjaga hati dari kesombongan. Bukan karena harta, jabatan, atau kepandaian, melainkan karena sesuatu yang sering dianggap sebagai kebanggaan, yaitu gelar dan pujian manusia.
Dikisahkan, Imam Hanafi atau Abu Hanifah Nu'man bin Tsabit sedang berjalan ketika berpapasan dengan seorang anak kecil yang mengenakan sepatu kayu. Melihat sepatu itu, sang imam khawatir anak tersebut terpeleset.
"Hati-hati, Nak, dengan sepatu kayumu itu. Jangan sampai kau tergelincir," nasihat Imam Hanafi.
Anak itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Setelah berbincang sejenak, ia mengetahui bahwa orang yang berdiri di hadapannya adalah Imam Hanafi, ulama yang saat itu telah dikenal luas sebagai Al Imam Al A'zham, atau imam agung.
Alih-alih merasa kagum, anak kecil itu justru menyampaikan nasihat yang membuat siapa pun patut merenung.
Ia berkata, "Wahai Imam, hati-hati dengan gelarmu. Jangan sampai Tuan tergelincir ke neraka gara-gara dia. Sepatu kayuku ini mungkin hanya menggelincirkanku di dunia. Tapi gelarmu itu dapat menjerumuskanmu ke kubangan api yang kekal jika kesombongan dan keangkuhan menyertainya."
Kalimat sederhana itu menghunjam hati Imam Hanafi. Sang ulama besar langsung menangis. Ia bersyukur karena Allah mengingatkannya melalui lisan seorang anak kecil yang bahkan tidak memiliki kedudukan, jabatan, ataupun gelar.
Kisah tersebut menyimpan pelajaran yang tetap relevan hingga hari ini. Di era media sosial, gelar sering kali menjadi identitas utama seseorang. Tidak sedikit orang merasa lebih dihormati karena gelar akademik, jabatan, status sosial, atau popularitas yang dimiliki. Bahkan, ada yang kecewa ketika gelarnya tidak disebutkan dalam sebuah acara atau tulisan.
Padahal, Islam tidak pernah melarang seseorang memiliki gelar. Gelar akademik merupakan hasil perjuangan menuntut ilmu, sedangkan jabatan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Yang menjadi persoalan adalah ketika gelar melahirkan rasa lebih tinggi daripada orang lain.
Rasulullah saw. mengingatkan bahwa kesombongan bukan diukur dari banyaknya harta atau tingginya kedudukan. Dalam hadis riwayat Muslim, beliau bersabda, "Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia."
Karena itu, semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin besar pula kerendahan hatinya. Semakin banyak penghormatan yang diterima, semakin kuat pula kesadaran bahwa semua itu hanyalah titipan Allah yang bisa diambil kapan saja.
Ustaz Adi Hidayat juga kerap mengingatkan bahwa ilmu yang benar akan melahirkan akhlak yang baik. Menurut beliau, "Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin rendah hatinya. Kalau ilmunya bertambah tetapi kesombongannya juga bertambah, berarti ada yang salah dengan ilmu yang dipelajarinya."
Al-Qur'an pun telah memberikan ukuran kemuliaan manusia yang sesungguhnya. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al Hujurat ayat 13:
"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti."
Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh gelar, jabatan, kekayaan, atau keturunan. Standar kemuliaan di sisi Allah hanyalah ketakwaan.
Kisah Imam Hanafi juga mengajarkan bahwa setiap muslim harus siap menerima nasihat dari siapa pun. Kebenaran tidak selalu datang dari orang yang lebih tua, lebih terkenal, atau lebih berpendidikan. Bisa jadi Allah menitipkan peringatan melalui seorang anak kecil, sebagaimana yang dialami Imam Hanafi.
Barangkali, bukan anak kecil itu yang membuat Imam Hanafi menangis. Air mata sang imam mengalir karena ia menyadari betapa mudah hati manusia tergelincir oleh pujian dan gelar. Sepatu kayu memang bisa membuat seseorang jatuh di jalan. Namun, kesombongan dapat menjatuhkan seseorang jauh lebih dalam jika tidak segera disadari.
Itulah sebabnya, gelar terbaik bagi seorang muslim bukanlah profesor, doktor, haji, pejabat, ataupun tokoh terkenal. Gelar paling mulia adalah menjadi hamba Allah yang bertakwa dan tetap rendah hati, meski berada di puncak kehormatan.
Foto: Pexels
#ImamHanafi #KisahIslam #HikmahIslam #AkhlakMulia #Tawadhu #UstazAdiHidayat #MuslimInspiratif #Muhasabah #Islam #LifestyleIslami