Kembali ke semua artikel
Benarkah Islam Tak Alergi Perbedaan? Ini 3 Faktanya
Khazanah Islam Indonesia 01 July 2026 4 menit baca

Benarkah Islam Tak Alergi Perbedaan? Ini 3 Faktanya

Ditulis oleh Ovi Shofianur

Di media sosial, perbedaan pendapat sering berujung saling serang. Sedikit berbeda pandangan, langsung muncul cap sesat, liberal, radikal, atau kafir. Padahal, salah satu ulama besar Indonesia, KH Abdul Wahid Hasyim, justru menawarkan cara pandang yang berbeda. Putra Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari ini meyakini bahwa Islam tidak dibangun di atas fanatisme buta. Sebaliknya, Islam mengajarkan keterbukaan, dialog, dan persatuan tanpa harus kehilangan prinsip.

Pemikiran yang ditulis lebih dari 70 tahun lalu itu ternyata masih terasa sangat relevan di era digital. Berikut tiga gagasan menarik KH Wahid Hasyim tentang Islam yang demokratis.

1. Teguh Memegang Prinsip Bukan Berarti Fanatik
Banyak orang menganggap orang yang kuat memegang keyakinan pasti fanatik. KH Wahid Hasyim membedakan dua hal tersebut secara tegas.

Menurutnya, seseorang yang mempertahankan pendapat berdasarkan ilmu, pemahaman, dan tanggung jawab bukanlah seorang fanatik.

Ia menulis: "Pendirian yang teguh dengan pengertian, bukanlah fanatisme atau ta'ashub, tetapi kesetiaan dan perasaan tanggung jawab yang penuh."
Fanatisme justru muncul ketika seseorang mengikuti suatu pandangan secara membabi buta tanpa mau belajar ataupun mendengar alasan pihak lain.

Karena itu, Islam tidak melarang seseorang memiliki prinsip yang kuat. Yang ditolak adalah sikap menutup diri dari ilmu dan kebenaran. Bagi anak muda, pesan ini sangat penting. Berani mempertahankan keyakinan boleh saja. Namun, jangan sampai kehilangan kemampuan berdiskusi dan menghargai perbedaan.

2. Islam Tidak Takut dengan Perbedaan Pendapat
Salah satu pernyataan KH Wahid Hasyim yang paling menarik berbunyi: "Islam adalah demokratis, tidak takut pada pendapat orang lain yang berlainan padanya. Tidak ada buku yang lebih demokratis daripada Al-Qur'an."

Kalimat ini cukup mengejutkan jika dibaca dalam konteks sekarang. Menurut KH Wahid Hasyim, Al-Qur'an justru berkali-kali mengajak manusia berpikir, berdialog, mengajukan pertanyaan, bahkan membantah argumen yang keliru dengan penjelasan yang rasional. Artinya, perbedaan pendapat bukan ancaman bagi Islam.

Yang berbahaya justru ketika seseorang menolak berdiskusi, menutup ruang berpikir, lalu merasa hanya dirinya yang pasti benar. Sejarah Islam sendiri dipenuhi tradisi diskusi ilmiah. Para ulama berbeda pendapat dalam banyak persoalan fikih, tetapi tetap saling menghormati dan tetap bersaudara. Karena itu, berbeda pandangan tidak otomatis berarti bermusuhan.

3. Persatuan Lebih Penting daripada Ego Kelompok
KH Wahid Hasyim bukan hanya berbicara soal persatuan. Ia juga memperjuangkannya. Ia ikut merintis berdirinya Majelis Islam A'la Indonesia pada 1937 yang kemudian berkembang menjadi Masyumi pada masa pendudukan Jepang. Ketika dinamika politik berubah, ia kembali menggagas Liga Muslimin Indonesia agar berbagai organisasi Islam tetap memiliki ruang untuk bekerja sama.

Baginya, kekuatan umat lahir ketika mampu bersatu menghadapi persoalan bersama, bukan sibuk saling menjatuhkan. Semangat persatuan itu juga ia perluas menjadi persaudaraan kebangsaan. Ia pernah mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk memandang sesama manusia sebagai saudara dan tidak mudah menganggap orang lain sebagai musuh.

Pandangan ini sejalan dengan sabda Rasulullah saw.: "Orang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan sebuah bangunan, yang sebagian menguatkan sebagian lainnya." (HR. Muslim)
Persatuan bukan berarti semua orang harus memiliki pendapat yang sama. Persatuan berarti mampu bekerja sama meski memiliki perbedaan.

Islam Mengajak Berpikir, Bukan Ikut Ikutan
KH Wahid Hasyim juga mengkritik munculnya budaya saling melabeli fanatik. Menurutnya, tuduhan seperti itu sering dipakai untuk melemahkan persatuan umat. Ironisnya, lama kelamaan label tersebut justru ikut diulang oleh sesama Muslim kepada Muslim lainnya. Pesan ini terasa semakin relevan di era media sosial.

Hari ini, seseorang bisa dicap hanya karena potongan video beberapa detik atau satu unggahan yang dipahami di luar konteks. Padahal Islam mengajarkan tabayun, mencari penjelasan, dan berlaku adil sebelum memberikan penilaian. Menjadi muslim yang dewasa berarti berani berpikir kritis, terbuka terhadap dialog, serta tetap kokoh memegang prinsip yang didasarkan pada ilmu.

Itulah salah satu warisan intelektual KH Wahid Hasyim yang layak terus dirawat. Islam yang kuat bukan Islam yang gemar membungkam perbedaan, melainkan Islam yang percaya diri berdialog, menghargai ilmu, dan menjadikan persatuan sebagai kekuatan.

 

Foto: Magnific

 

#Islam #KHWahidHasyim #NahdlatulUlama #NU #SejarahIslam #ModerasiBeragama #GenerasiMuda #LiterasiIslam #Indonesia #MuslimInspiratif

Sukai dan bagikan artikel ini

Komentar

0 tanggapan dari pembaca

Belum ada komentar untuk artikel ini.

Artikel menarik lainnya

Lanjutkan dengan membaca artikel menarik lainnya

Lihat semua